JANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN ORANG LAIN

Entah mengapa, ada dari kita  yang selalu punya kecenderungan untuk menjadi sosok yang gemar sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya boleh-boleh saja mengkritik teman atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya kita tetap menghormati orang yang kita kritik.  Karena itu dalam menyampaikan informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya kita menyampaikannya dengan cara yang baik, ramah dan lembut. Dan jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat kita dengan cara yang baik, santun dan bijak.

Berkatalah yang baik atau diam. Ya, kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tidak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi)   Lalu dalam hadist lain disebutkan: “Allah SWT memberi rahmat keapda orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR. Ibnul Mubarak)

Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb.

Dalam mengkritik, kita harus bijak,  kita juga harus memusatkan perhatian pada kemampuan orang yang kita kritik. Carilah satu kelebihan dalam diri orang tersebut. Walaupun tampaknya dimata kita kemampuannya kecil/sepele dan kita masih bisa jauh lebih baik dari orang tersebut. Namun, cobalah bertanya pada diri sendiri, bagaimana bila kita berada di posisi orang yang kita kritik, tanpa mempertimbangkan sedikitpun,  kebenaran dan kemampuannya?

Kita juga harus memeriksa kembali apa motif kita mengkritik (tanyakan dengan jujur pada diri sendiri). Dan tanyakan juga apa keuntungan yang kita raih setelah mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Karena, apabila yang namanya kritik itu, hanyalah sebuah upaya untuk menonjolkan konsep tentang diri sendiri.  Atau kadang untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dari orang yang kita kritik (yang kita cari-cari kesalahannya, kelemahannya). Jika motif kita seperti itu, maka segeralah berhenti untuk mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Ketahuilah, tidak ada orang yang luput dari salah dan khilaf, dan begitupun diri kita.

Daripada kita terus menerus menyibukkan dan melelahkan diri kita dengan mengorek-ngorek dan mencari-cari kesalahan dan kelalaian orang lain, yang bisa kita jadikan senjata untuk menyerangnya, bukankah lebih baik kita berpikir positif. Coba tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, sudah mampukah kita berbuat lebih baik dari orang yang kita kritik atau kita cari-cari kesalahannya? Caranya hanya satu, yakni dengan pembuktian, lakukanlah ”sama persis” ”segala hal” yang dilakukan orang yang kita cari-cari kesalahannya. Kita buktikan pada diri sendiri dan dunia, apakah kita bisa melakukannya sama dengan orang yang kita cari-cari kesalahan/ kekurangannya, atau kita bisa melakukannya lebih baik dari orang tersebut? Semua ini hanya bisa diketahui dengan ”pembuktian”.

Istilahnya, jangan cuma sekedar bisa meng-kritik atau mencari-cari kesalahan orang lain saja, coba lakukan terlebih dahulu, ”semua hal”  yang dilakukan orang yang kita kritik atau yang kita cari-cari kesalahannya, kemudian lihat hasil yang kita capai, apakah hasil yang kita capai lebih baik darinya, sama dengannya atau lebih buruk darinya? Mampukah kita berbuat seperti dia, sebaik dia, atau lebih baik dari dia? Dan kalaupun ternyata kita memang mampu berbuat lebih baik daripada orang yang kita cari-cari kesalahannya/kritik, maka bersyukurlah, jangan sampai hal tersebut  menjadikan kita ujub dan tidak berarti hal tersebut membolehkan kita meneruskan mencari-cari kesalahan orang lain, perhatikanlah hadits-hadits shahih terkait.

Seorang ahli hikmah berkata, aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya. (mengutip perkataan, Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni. M.A.)

Kita sebagai umat islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya apalagi berusaha mempermalukan orang tersebut didepan umum, dengan menggunakan ilmu/kepandaian kita.

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no (6064) dan Muslim, no (2563).

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujuraat [49] : 12)

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Abdullah bin Umar ra menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, ” suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :”Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman  itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum  muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot  mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama  muslim, Allah akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari  aurotnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880.  hadits shahih)  (keterangan: yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib/cela atau cacat, kejelekan dan kesalahan. Dilarang mencari cari kejelekan/kesalahan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia – tuhfatul Ahwadzi).

Dari hadits di atas dapat digambarkan dengan jelas pada kita betapa besarnya kehormatan  seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdullah bin Umar ra memandang Ka’bah, ia berkata: ” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Allah darimu. (HR Tirmidzi no. 2032)

Jadi, sebaiknya kita memelihara perkataan dan perbuatan kita, memang tampaknya enak dan menyenangkan mengkritik orang lain, apalagi bila kita bisa menemukan celah dari hasil kita mengorek-ngorek kesalahan orang yang kita kritik, karena hal tersebut bisa kita jadikan senjata untuk melontarkan kritik kita. Tapi sebelum itu semua, cobalah terlebih dulu berusaha menjadi orang yang kita kritik, sangat penting untuk “melakukan sama persis, semua hal  yang dilakukan orang yang kita kritik dan yang kita cari-cari kesalahannya”  kita buktikan terlebih dahulu hasil pencapaian kita, apakah hasil yang kita capai sebaik dia, lebih baik dari dia, atau lebih buruk dari dia.

Bagi seorang mukmin yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah, wajib mengerti bahwa “perkataan” itu termasuk amalannya yang kelak akan dihisab: amalan baik maupun buruk. Karena pena Ilahi tidak meng-alpakan, tidak pernah lalai ataupun menghapuskan satupun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal. Ingatlah bahwa semuanya, kelak harus kita pertanggungjawabkan.

Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dakwahdewiyana.blogdetik.com

About these ads

65 responses to this post.

  1. pena Allah tidak pernah alpa ya wie..
    sungguh kita tak berdaya tanpa cintaNYA

    Balas

  2. Assalamualaikum,
    Kalau menurut saya sih mbak, mencari kesalahan orang lain sama saja dengan menunjuk dirinya yang bersalah. Secara prinsip, orang mencari kesalahan orang lain, pasti dianya memiliki kesalahan.
    Untuk menutup kesalahannya maka dicarilah kesalahan orang lain.

    Balas

  3. Tausyiah yang menyejukan n mencerahkan
    Salam kenal

    Balas

  4. Posted by KangBoed on 15 Agustus 2009 at 09:20

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

    Balas

    • Posted by Saka on 18 Agustus 2009 at 23:46

      Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
      I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

      Balas

  5. Posted by KangBoed on 15 Agustus 2009 at 09:22

    Hahaha.. dalam istilah bahasa jawa.. Babahan hawa songo.. jalan semedi menutup 9 lubang indera.. sebenarnya dan sejujurnya ketika kita mulai melangkah inilah yang harus kita lakukan pada awalnya.. menutup semua dan memperbaiki serta menata diri
    salam sayang

    Balas

  6. Memang bener Mbak, ada orang yg lebih suka mencari-cari kesalahan orang lain dalam mengkritik, seakan-akan dia yg paling bener, dan yg paling pinter. Mungkin org spt itu ngga tahu tentang ancaman Allah, tentang jangan mencari-cari aurot orang lain, spt yg Mbak sebutkan diatas. Saya setuju dgn komentarnya pak Aldy dan tambahan dari saya : orang yg sukanya mencari-cari kesalahan org lain, adalah org yg sebenarnya iri hati sama kita, jadi dia berusaha menjatuhkan kita, dengan cara mencari-cari kesalahan kita terus digunakannya untuk menyerang kita.

    Balas

  7. bener bnget mba… kadang kita lebih terfokus pada kesalahan kecil orang lain tanpa melihat kesalahan yg lebih besar yg ada pada diri sendiri, seperti pepatah yg mengatakan ” gajah dipelupuk mata tak tampak tapi semut diseberang lautan malah terlihat”

    ternyata hadistnya banyak juga ya mba?? mmm lidah memang tajam, bahkan lebih tajam dari silet jadi mari qt berhati-hati dalam berkata.
    terimaksi mb?? :)

    Balas

  8. terima kasih atas nasehatnya

    Balas

  9. betuuulllllll….. setuju… MERDEKA…!!!!

    Balas

  10. Panjang banget, aku bacanya sampai buyar..
    memang iya, mencari kesalahan orang itu tidak baik, dan itu adalah perbuatan dosa.
    padahal kita diperintahkan untuk menjaga aib orang, kok malah mencari kesalahan orang.
    memang benar kata orang, banyak orang yang mati karena terpeleset lidah dari pada mati mati karena terpeleset kaki.
    Butik Online

    Balas

  11. tulisan yg sangat mencerahkan mbak…….
    ini saya kira berhub dgn mulat sarira yg di artikel saya….mulat sarira itu bisa mengambil manfaat dari segala kebaikan dan mengambil hikmah dari segala kejelekan…sayakira kalo terus menerus introspeksi diri akan mencapai tahapan ini

    Balas

  12. Posted by sigit supriyanto on 15 Agustus 2009 at 14:39

    Pengungkapan yg baik sekali, didukung gaya bahasa yg baik, tidak terlalu “memaksakan”.., pantas kalo coment berjubel…, uraiannya menyejukkan.., mungkin itu rahasianya. Tks telah berkunjung pada postingan saya. Sigit

    Balas

  13. kunjungan silaturrahmi….
    tulisan yg membuat kita semakin sadar akan sebuah sifat yg terkadang-kadang muncul dari dalam diri kita… mungkin saya pribadi akan lebih bisa meng-intropeksi diri…
    terimakasih mbak atas kunjungannya, seringlah singgah ke blog sederhana saya…

    salam, ^_^

    [assalamu'alaikum]

    Balas

  14. bener banget bos! mantab

    Balas

  15. pencerahan di malam minggu… terimakasih nasihatnya iia :)

    Balas

  16. Insyaallah MBak….

    Terima kasih atas ilmu2 nya :)

    Assalamu’alaikum wr.wb

    Balas

  17. Posted by adi isa on 15 Agustus 2009 at 22:24

    gimana kalau kesalahan Nordin M Top? hehehhehe
    tapi tulisan ini, oke punya lho…

    Balas

  18. waalaikumussalam… thanks udah maen ke blog gw. hehehe… nih kunjungan baliknya (silaturahim).

    fast reading aja ya. lagi makan :D (allahuma bariklana…)

    salam ganteng dari diazhandsome

    Balas

  19. Assalamualaikum wr.wb. Dewi saya setuju , kita tidak boleh mencari kesalahan orang lain.. Tapi menurut Buya Hamka , bahwa teman yang sejati itu bukanlah teman yang selalu memuji diri kita tetapi yang mau mengatakan apa adanya pada diri kita atau teman yang berani menyatakan kekutarangan diri kita. Menurut mbak dewi dalam kontek begini …bagaimana ya….. maaf tidak marahkan konsutasikan, tidak apa ya….

    Balas

    • Assalamu’alaikum,
      Iya Pak benar sekali, sebagai seorang teman, saudara semuslim, kita memang harus saling menasehati dan memperingatkan apabila seorang teman kita, ada kekurangan, kesalahan atau sesuatu yang kurang baik menurut pandangan kita, yang mungkin tidak ia sadari. Hal itu tidak mengapa dilakukan, asalkan kita melakukannya dengan cara yang baik. Pada dasarnya kritik itu bagus untuk kemajuan, orang yang tidak bisa menerima kritik sama sekali adalah orang yang picik dan tidak akan pernah bisa bercermin diri akan kekurangannya. Yang tidak boleh dilakukan adalah, mencari-cari kesalahan seseorang, walaupun sebenarnya kita tahu ia tidak salah. Terima kasih Pak, tolong jangan sungkan-sungkan memberikan komentarnya.
      (Dewi Yana)

      Balas

  20. saya sudah mengingatkan media televisi jauh sebelum tayangan mereka jadi konsumsi publik terutama maaf “kaum ibu” karena acara tidak bermanfaat dan penuh dosa itu akhirnya malah jadi tayangan yang tidak pernah di sentuh oleh pemerintah sama sekali atau badan sensor. Parahnya negeri ini mau di bodohi oleh ghibah, kasihan anak cucu dan istri kita jika jadi penikmatnya. Nice Post

    Balas

  21. mulat sarira angrasa wani… kita harus selalu introspeksi..
    setuju…

    Balas

  22. renungan di siang yang panas, menyejukkan dan membuatku termenung..

    Balas

  23. mencari kesalahan orang lain itu perbuatan yang tercela,
    lebih baik kita memperhatikan perbuatan kita sendiri aja, apa kita sudah baik?
    terimaksih..

    Balas

  24. iya benar sekali mantap sekaliiii……

    Balas

  25. like this. pokoknya bil hikmah deh ya. :)

    Balas

  26. Posted by KangBoed on 16 Agustus 2009 at 17:58

    agama adalah way of life.. jalan hidup.. bagaimana caranya kita membenahi diri dan berjalan sesuai dengan kehendakNYA

    Balas

  27. Posted by KangBoed on 16 Agustus 2009 at 17:59

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

    Balas

  28. Posted by finda on 16 Agustus 2009 at 22:14

    Subhanallah..mba.Iya btul tkadang qt terlalu sibuk mencari2 ksalahan org lain..pdahal diri sndiri mungkin tidak lebih baik dr org yg qt cari2 kesalahannya…humm..ya..sebaiknya qt disibukkan dg muhasabah diri & bukannya sibuk mncari2 kesalahan org lain…salam…. :D

    Balas

  29. Bagus mas/mbak artikelnya sangat bermanfaat nih

    Balas

  30. Posted by qarrobin on 17 Agustus 2009 at 11:36

    Assalamu’alaikum
    share link yuk @wie

    kadang ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan, saya serahkan ke teman2 yang lebih tau. Kadang tersirat kesombongan pada koment saya, biasanya kalo untuk koment di blog sendiri maka akan saya perbaiki. Kalo komentnya di blog teman yang mengingatkan saya, saya ucapkan terima kasih telah mengingatkan dan istighfar. Terima kasih @wie dan @all yang sering mengingatkan saya. Saya masih awam untuk soal agama, tapi kalo pertanyaan seputar fisika, insya allah akan saya jawab sebatas kemampuan saya. Bismillah Rabbi Zidni Ilmi

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang Tuk Sahabatku Tersayang
    I Love you fuuuuuuuuuuuuuuuullllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

    Balas

  31. Posted by Siti Fatimah Ahmad on 17 Agustus 2009 at 12:38

    Assalaamu’alaikum..

    Mencari kesalahan orang lain tanpa usul periksa boleh mendatangkan aib kepada dia. Menegur kesalahan seseorang itu tidak salah.Malah digalakkan oleh ajaran islam agar kita sentiasa beringat-ingat dan berpesan pada jalan kebaikan. Berani kerana benar, takut kerana salah. Salam sayang Dewi.

    Balas

  32. Wahwah . . .bgus skali’

    (slmat HUT RI Ke 64)

    Balas

  33. sepantasnya kita menjaga setiap ucapan dengan baik dan tidak menyudutkan pihak manapun, saya pernah membaca sebuah cerita yang dimana Tuhan memberikan 2 buah kantong kepada seorang mahluknya dan kantong itu berisi keburukan orang itu dan keburukan orang lain, walhasil dia lebih senang dengan melihat keburukan orang lain daripada bercermin kepada keburukannya…mungkin ini juga yang membuat kita lebih senang menyalahkan kesalahan orang lain daripada berpikir tentang keburukan diri sendiri..hmm tulisan yang sangat baik untuk bercermin pada diri sendiri Mba Dewi..terima kasih Mba sudah mengingatkannya :mrgreen:

    -salam- ^_^

    Balas

  34. kalau saya malah bersyukur ada yang mengkritik, tentu juga kritik yang santun, karena kritikan akan membuat kita terus berbenah

    Balas

  35. Assalamu alaikum

    hmmmm..
    Nasehat yg bagus…
    makasih….

    terkadang …kritikkan bukan dalam arti tujuan untuk menghina apalagi menaikkan harga diri…
    Kritik..ada saatnya…..Lembut.kasar,kiasan dll…..

    tergantung situasi……
    Yang kita pikirkan…..bagaimana hasilnya…agar yang dikritik itu paham….
    Kritik pun perlu siasat….
    Terkadang untuk menasehati seseorang dgn kelembutan tak mempan…maklum…yg dikritik atau yang dinasehati…adalah yang biasa kasar dalam pergaulan…atau juga hatinya hati batu ech..besi…

    Mengenai hasil…memang diserahkan pada ALLAH SWT…
    Yang namanya Usaha…itu perlu….
    Usaha ..perlu distrategikan…agar mendapatkan jalan mulus….
    yach ini tergantung pengalaman juga sich….
    Ilmu membaca hati seseorang itu..sangat diperlukan…

    Segitu dulu dan moga bermanfaat
    Wassalam

    Balas

  36. Assalamu’alaikum,
    Mas Hariez,, Ibu Siti Fatimah, dan teman-teman lainnya, terima kasih atas komentar dan masukkannya. Bapak Jack, saya pun bersyukur kalau ada yg kritik, asalkan cara penyampaianannya baik dan tidak langsung menyalahkan, menyudutkan dan dalam kritik, orang tsb tidak mencari-cari kesalahan kita yg sebenarnya tidak ada.

    Mas Ayruel, terima kasih.

    Balas

  37. Maafkan atas kesalahan saya selama ini ya, sebelum bulan ramadhan, ^_^…V

    Balas

  38. saya merasa kerdil membaca tulisan ini.
    begitu halus… namun tegas membahana.

    subhanallah!

    Balas

  39. ajibbbbbbbbbbb2 shohehhhhhhh ya ukhtiiiiiii syukroonnnn salammmmmmm

    Balas

  40. Orang yang cenderung mencari2 kesalahan orang kalo menurut saya biasanya hidupnya tidak pernah tenang, bahkan tak jarang dia lebih mengurusi hidup orang lain ketimbang mengurusi kehidupan nya sendiri, satu kata buat orang begitu *Payah*

    Salam

    Balas

  41. Kenapa Harus mencari kesalahan orang lain? kalo dirinya sendiri masih salah.

    kurang kerjaan aja

    Balas

  42. setuju, kesalahan orang lain biarlah menjadi kesalahan yang bersangkutan. kalau pun mau sebelum mengoreksi kesalahan orang lain, perbaiki dulu diri kita sendiri apakah masih melakukan kesalahan??? positif thinking aja dah…

    Balas

  43. Posted by hellgalicious on 18 Agustus 2009 at 20:46

    subhanallah
    postingannya bener-bener bermanfaat
    emang bener tuh kesian banget ama orang yang ga tau apa apa malah disalain

    Balas

  44. haddiirrr…..
    malam2 gini, jalan2 menyambangi sahabat tersayang…, minta nasinya dong, laperr.. euy..

    Balas

    • Hhhmmm, hebat mbak :) sekarang aku lagi berfikir sudah berapa orang aku tegur dengan cara kurang ‘nyaman’ terutama akhir2 ini hhh…, padahal mereka pantas mendapatkank koreksi dengan cara yang lebih baik. makasih mbak sudah diingatkan. besok aku minta maaf :)
      cu…

      Balas

  45. Nasehat yang bermanfaat, kadang biarpun tak mencari-cari kesalahan kita sering menyalahkan orang lain

    Balas

  46. Baru selesai baca, belon bisa komen ah ngantuk….
    yang jelas tulisannya amat bagus mba
    salaaaaaaaaaaaaam

    Balas

  47. Posted by Saka on 18 Agustus 2009 at 23:47

    kalo yg kerjaannya sebagai JAKSA PENUNTUT gimana?

    Balas

    • Assalamu’alaikum,
      Jaksa penuntut, atau seorang saksi yang memberikan kesaksian di pengadilan, tidak mengapa, diperbolehkan, membuka fakta, membeberkan kesalahan orang lain, demi terwujudnya keadilan. Yang tidak boleh adalah, dalam mengkritik, kita mencari-cari kesalahan orang lain lalu membicarakan/menggibahnya. Saya mengacu pada hadits Rasulullah diatas. terima kasih atas komentarnya.
      (Dewi Yana)

      Balas

  48. Hadir Kembali mengunjungi Kawan Tercinta

    Balas

  49. SAYA SUDAH BACA BERULANG-ULANG TULISAN INI, DAN SAYA TIDAK MENEMUKAN SESUATU YANG SALAH.

    Balas

  50. tdk ada manusia yg sempurna,,
    memang mending instropeksi diri dl sblm ngoreksi org lain,,lagian dosa

    Balas

  51. jadi in9et pepaTah ” muLutmu hariMau mu.. ”
    dan ituh tepat ya teh..

    bicara sama berfikir lebih cepat berbicara,jadi kudu ati ati eman9..

    makasi teh.. :)

    Balas

  52. kadang saya lebih cenderung untuk diam (sambil berpikir) daripada mengkritik lantaran ketidaktahuan saya akan permasalahan yang ada.
    kalau dalam kondisi seperti itu (diam dan berpikir) apakah bisa masuk ke kategori motif prasangka ya.
    maklum saya awam dan masih banyak belajar (jadinya banyakan diamnya, takut salah omong)

    terimakasih atas postingannya ukhti.

    Balas

    • Assalamu’alaikum,
      Iya Pak, tidak mengapa, semoga perbaikan blognya cepat selesai, terima kasih atas pemberitahuannya. Masalah diam, itu tetap jauh lebih baik, seperti sabda Rasulullah saw : “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi). Sebaiknya kita selalu berusaha untuk berprasangka baik terhadap siapapun, khususnya kepada Allah SWT.
      (Dewi Yana)

      Balas

      • Posted by Fatima on 15 Desember 2009 at 21:13

        Assalamualaikum WrWb

        Saya baru membaca Blog nya Mbk Dewi.
        Subhannaloh bagus sekali, banyak Ilmu bermanfaat yg anda bagi. Terimakasih.

        Tapi ada yang ingin saya tanyakan (saya bertanya semata2 krn ketidak tahuan saya utk bersikap apa.

        Saya mengenal sepasang suami istri yg sudah berusia di atas 50 tahun, tapi beliau selalu bertengkar dan sering saling menghina dan menjelekkan satu sama lain. padahal hampir setiap hari Kamis dan hari Minggu beliau menghadiri Pengajian bahkan mengadakan Pengajian sendiri di rumah anaknya yg di ikuti oleh semua anak2nya yg lain, menantu dan cucu2nya.

        Semua yang diajarkan Bapak itu adalah kebaikan, misalnya tentang Fikih Islam, atau hal2 tentang kebaikan lainnya, tapi jarang sekali membahas tentang tanggungjawab suami istri atau sebaliknya.

        Tapi dalam kehidupan sehari-hari, Bapak itu sering bersikap kurang baik, dan terhadap istrinya bersikap keras dan marah-marah, kalau tidak ada makanan, dia bisa memaki istrinya, kalau tidak ada kopi dia di bisa berterik terhadap istrinya, tapi dia tidak memberi nafkah (uang belanja) terhadap istrinya padahal dia masih bekerja dan punya beberapa anak buah. Bagi bapak itu yang harus menafkahi istrinya adalah anak2nya bukan dirinya. karena menurut bapak itu anak2nya wajib menafkahi ibunya terlebih dahulu baru menantu atau cucunya. itu wujut balas budi anak laki2 terhadap orang tuanya terutama Ibunya.

        bapak tersebut juga suka mencampuri urusan keluarga anak2nya, bahkan ikut mengatur keputusan dalam keluarga anaknya, dan anaknya tidak boleh membantah dan semua harus menurut, kalau tidak anaknya akan di benci dan sidang di depan semua anggota keluarga karena sudah tidak patuh dengan orang tua. dan bersama mereka menyalahkan menantunya.

        Dan si Ibu tidak jauh berbeda, beliau juga sering gibah, sering adu domab antar menantunya, sampai antara menantunya salah paham, begitu juga antar anaknya saling menjelekkan satu sama lain, dan si ibu akan baik dengan anak yang memberinya uang, tapi kalau anaknya lagi tidak punya uang dan hanya bisa memberi sekedarnya, maka ibunya akan memperlakukannya dengan tidak baik, ibu akan bersikap sinis dan mempersalahkan menantunya, gara2 menantu anaknya jadi berubah dan tidak memberi uang pada orgtua, bahkan dengan gampang si ibu akan berteriak tentang anak yang durhaka akan masuk neraka.

        Kalu ada anaknya yang bertanya mengapa ibu bersikap begitu maka si Ibu akan berteriak-teriak menangis dan mengadu ke anaknya yang lain dengan alasan anaknya yg satu sudah tidak sayang padanya, anaknya sudah berubah karena istrinya. si Ibupun akan membenci menantunya dengan cara mengadu ke semua anak2nya sampai akhirnya menantu tersebut akan di sidang di depan semua keluarga dan di persalahkan atas sesuatu yg tidak jelas.

        Sekarang saya bertanya… kalau si anak ingin tau bagamana menyikapi Bapak dan Ibu seperti ini apakah si anak sudah termasuk org yg bergibah?

        Kalau diam itu lebih baik, bagamana membenarkan atau membetulkan suatu kesalahan biar tidak menjadi pembenaran?

        Apakah si anak hanya boleh diam tanpa bisa membela dirinya di depan semua anggota keluarga, meskipun dia di tuduh melakukan hal-hal yang dia sama sekali tidak mengerti?

        apakah cerita tentang Bapak dan Ibu ini sebuah aib atau sebuah kesalahan?

        bagamana mencari pembenaran terhadap suatu permasalahan bila kita tidak boleh menceritakan suatu kesalahan?

        apakah orang yang lebih tua dari kita melakukan kesalahan, kita hanya bisa diam dan tidak boleh menceritakan kesalahannya? lalu siapa yang boleh memperbaiki kesalahan biar jadi pembenaran, baik dimata Allah ataupun manusia?

        Bapak dan Ibu tersebut suka mencari-cari kesalahan anak2 dan menantunya, apakah kita boleh menegurnya atau mengingatkannya utk kebaikan? bagaimana caranya biar tidak menjadi suatu kesalahan?

        karena ketidak tahuan saya, maka saya bertanya pada mbk Dewi, dan biar mbk dewi tau permasalahannya, saya harus cerita apa yang terjadi, saya berharap ini bukanlah gibah, karena kalau mbk Dewi tidak tau permasalahannya, saya yakin mbk dewi tidak akan bisa memberi nasehat buat saya.

        Sekarang mbk Dewi sudah tau permasalahannya, apakah mbak Dewi bisa membatu saya?

  53. Assalamu’alaikum
    Inilah yang sering lupa, sibuk mencari aib orang lain, tapi lupa akan kelemahan diri. Terima kasih atas tausiahnya. Semoga Allah membalas kebaikan anda

    Balas

  54. Posted by Korban Pencela on 10 Februari 2011 at 23:47

    Assalamu’alaikum..

    Saya punya teman yg sukanya mencari kesalahan orang lain..
    dan dia sering saja menghujani saya dengan kelemahan / kesalahan saya. baik benar atau fitnah.
    padahal dia sendiri menurut saya tidak jauh lebih baik dari semua ucapan yg dia lontarkan.

    sungguh keruhnya hati orang ini

    Balas

  55. Posted by Joko Erwanto dan PKS Bojonegoro on 5 Mei 2011 at 13:50

    Assalamu’alaikum…
    Jazakumullah atas taujihnya melalui tulisan2 anda…
    Sekalian mohon maaf karena sebelumnya telah menyebarkan tulisan anda, harap maklum semangat menyebarkan kebaikan, untuk itu dengan ini saya mohon ijin untuk melanjutkan menyebarkan tulisan2 anda ke semuanya…
    Sebelumnya saya ucapkan jazakumullah atas ijinnya, smoga tulisan2 anda bermanfaat bagi semua yg membacanya…
    Demikian…Wassalam…

    Balas

  56. Posted by aissy on 24 April 2012 at 20:04

    baguss bgt mba blognya,

    Balas

  57. Posted by tunggul rizqi h on 18 Mei 2012 at 10:32

    iya saya juga pernah mengalami padahal saya beru pertama kali kerja di tempat saya yang baru…. sakit hati memang tapi jangan sakit hati bila diperlakukan seperti itu…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: