Archive for Mei 13th, 2009

HIKMAH UJIAN

FOTO KTP editAda beberapa teman yang bertanya pada saya, kenapa saya mengusung tema tasawuf dalam buku dan atau tulisan-tulisan saya, sedangkan tasawuf itu jalan yang cukup berat ditempuh, karena banyak cobaannya.

Sejujurnya saya sendiri juga tidak tahu, mengapa hati dan pikiran ini hanya tergerak, tertuju dan condong pada ilmu tasawuf. Saya selalu tergetar dan kadang sampai menangis bila membaca satu bahasan tasawuf. Saya tahu, mempelajari dan menulis tentang tasawuf, bukan hal yang mudah dilakukan, banyak sekali rintangan dan cobaan, tapi entah kenapa hati ini tetap merasa nyaman mempelajari dan membagi ilmu ini lewat tulisan.

Mungkin karena perjalanan hidup saya selama ini, yang Alhamdulillah, ditakdirkan Allah SWT banyak ujiannya, dimana nyaris seumur hidup saya, selalu saya lalui dengan rahmat-Nya itu (ujian adalah rahmat-Nya).

Pernah pada suatu waktu, saya ragu untuk menulis tentang tasawuf, karena takut akan cobaan, takut akan ujian yang datang, terkait dengan tulisan-tulisan saya. Dan saya pernah niat berhenti menulis tentang tasawuf. Tapi Subhaanallah, disaat saya ragu,  Allah SWT memberikan suatu perasaan sedih yang sangat luar biasa. Sedih karena saya merasa tidak mempercayai Allah SWT, yang selama ini selalu menemani saya dalam melalui segala hal  dalam kehidupan saya, sedih dan merasa bersalah sama Allah SWT, karena menyangsikan kasih sayang-Nya. Bukankah selama ini Allah yang membantu saya melalui semua?

Bukankah selama ini Allah SWT lah yang menemani saya dalam segala keadaan,  tidak pernah meninggalkan saya dan tidak pernah mengabaikan saya? Bukankah Allah tidak pernah membiarkan saya melalui semua ujian-Nya sendirian? Bukankah saya ini, berada dalam jaminan dan pengawasanNya? Dalam tahajut, saya sampai menagis yang sangat hebat, saya benar-benar merasa jahat, karena tidak mempercayai Allah SWT, tidak percaya pada janji-Nya, bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan, melebihi kemampuan hamba-Nya. Saya merasa, telah menjadi hamba yang sangat jahat kepada Allah, padahal Allah selalu baik pada saya dan yang selalu sayang sama saya.

Saya bertanya pada diri saya sendiri, hamba macam apa saya ini? takut akan ujian-Nya, cemas akan sesuatu yang belum terjadi? Dimana iman saya? Dimana ketauhidan dan ketawakkalan saya? Kalau saya benar-benar kuat iman, dan benar dalam tauhid dan ketawakkan saya, tentunya hal ini tidak akan terjadi?

Saat itu saya benar-benar sedang mengalami kemerosotan iman yang luar biasa. Tapi Alhamdulillah, Allah SWT menyadarkan saya dan menguatkan saya. Memberi ketenangan dan kekuatan untuk melanjutkan belajar dan menulis tentang tasawuf. Kemudian entah bagaimana, seperti ada kekuatan, ketenangan yang sulit saya ungkapkan dan tangan ini seperti tidak mau berhenti menulis dan semua tulisan, seperti mengalir begitu saja, sepertinya selalu ada saja yang mau saya tulis.

Dan ya, memang benar, ujian tasawuf memang benar-benar berat  dan terus menerus, juga sangat beragam, selalu datang silih berganti. Alhamdulillah sampai sekarang, saya baik-baik saja dan bahkan Subhaanallah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memilihkan jalan ini untuk saya. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengajarkan saya, melalui buku yang saya tulis, Allah SWT mengajarkan saya melalui materi-materi tulisan yang saya tulis. Saya bersyukur kepada Allah SWT, yang telah menggerakkan hati dan pikiran saya untuk condong pada tasawuf. Dan besyukur pada Allah SWT yang telah membiasakan saya dengan ujian-ujian-Nya, menggembleng saya dengan banyaknya dan beragamnya ujian.

Terkait dengan uraian diatas, berikut ini adalah bahasan tentang hikmah ujian, dimana sebenarnya, kalau kita diuji oleh Allah SWT berarti kita telah dipilih-Nya, untuk dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi yang telah disiapkan-Nya untuk kita.

Semua kejadian di muka bumi adalah atas kehendak dan kuasa Allah. Tidak satupun kejadian yang terlepas dari kendali-Nya. Daun kering yang tertiup angin, kemudian jatuh entah di mana, adalah atas kuasa dan dalam pantauan-Nya. Angin bertiup, awan berarak-arak, matahari bersinar, semuanya atas perintah dan kemauan-Nya. Semua adalah takdir dan iradahnya.

 Cobaan atau ujian adalah rekayasa Ilahiyah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Cobaan diberikan oleh Allah dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Bagi yang lulus akan naik derajat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak lulus ada dua alternatif pilihan, yaitu tetap ditempat atau justru  melorot jatuh ke  derajat yang lebih rendah.
Dengan kata lain, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini dibiarkan oleh Allah berlalu tanpa mendapatkan ujian. Apalagi bagi mereka yang telah mengaku sebagai orang yang beriman, maka pengakuan itu perlu pembuktian. Hanya melalui ujian yang datang silih berganti, seseorang dapat membuktikan keimanannya kepada Allah SWT. Dan Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :   ”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, `Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabuut: 2) 

Ujian yang diberikan kepada manusia itu beragam, ada yang langsung, ada yang tidak langsung. Ada yang mengenai dirinya, keluarganya, atau harta bendanya. Ada yang terasa berat, tapi ada pula yang ringan-ringan saja. Ada yang berupa kesengsaraan, tapi tidak sedikit yang berupa kenikmatan. Tergantung pada siapa yang akan diuji, dan tentu saja itu semua terserah pada keputusan Allah.

Yang penting bagi kita adalah perasaan  dan sikap kita dalam menjalani ujian Sebaiknya kita selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan mental dan keimanan kita, agar bila suatu waktu ujian datang menghampiri kita, kita telah siap. Karena ujian kenaikan tingkat, biasanya datang tanpa pemberitahuan dan tidak disangka-sangka datangnya. Kalau kita telah siap menerimanya, maka kita akan menjalani ujian itu dengan penuh semangat, tidak ada keluh-kesah, karena kita menyadari bahwa tiada ujian yang ringan, apalagi untuk ujian kenaikan tingkat.

 

Seharusnya kita bersemangat dan bergembira manakala menerima ujian dari Allah SWT. Karena hanya melalui ujian itu, tingkatan iman kita bisa meningkat. Semakin banyak ujian yang bisa kita lewati, berarti kesempatan untuk naik tingkat semakin besar.  Itu artinya bahwa Allah mencintai kita, menginginkan agar kita naik tingkat secara cepat. Rasulullah saw  bersabda :  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR Tirmidzi).  .

 

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, jika Allah rindu kepada hamba yang dicintai-Nya, maka Dia akan memerintahkan kepada malaikat untuk mengirimkan sebuah paket hadiah berupa ujian. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman :  “Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian kepadanya, karena Aku ingin mendengarkan rintihannya.” (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 

Rintihan hamba Allah yang mencintai dan dicintai Allah itu, tentu saja bukan berupa keluh-kesah, histeria, apalagi berupa umpatan. Rintihannya tidak lain berupa doa, dzikir, wirid, munajat dan taqarrub Ilallah. Rintihan semacam inilah yang selalu dirindukan oleh Allah SWT.

 

Cobaan atau ujian, tentu saja bertingkat sesuai dengan kualitas iman seseorang. Semakin tinggi tingkatannya, semakin berat pula ujiannya. Sebaliknya, bagi mereka yang imannya masih rendahan, tentu saja materi yang diujikan juga ringan.  Dalam hal ini Rasulullah saw  pernah menggambarkan tingkatan ujian itu

  1. Sebagai berikut :  ”Tingkat berat – ringannya ujian, disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang paling berat menerima ujian adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikian bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun.”    (HR. Tirmidzi)

 

Semakin tinggi kita memanjat pohon, semakin banyak angin yang menerpa. Jika tidak hati-hati, bisa jatuh lagi ketanah, dan lebih sakit. Sama halnya dengan tingkat keimanan kita. Semakin tinggi tingkatnya, maka semakin banyak tantangan, semakin banyak cobaan dan  ujian yang datang silih berganti. Jika kita sanggup menyelesaikannya, maka kedudukan kita menjadi lebih tinggi lagi.

Apakah sekarang ini Allah tengah menguji dan memberikan cobaan kepada kita? Jika ya, maka bersyukurlah. Jadikanlah cobaan itu sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang jauh lebih baik. .Jadikanlah ujian dan cobaan itu sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Jadikan cobaan itu sebagai alat untuk melebur dosa-dosa kita, sebab setiap cobaan yang diterima dengan lapang dada akan mendatangkan pahala dan menebus dosa. Rasulullah saw bersabda:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

DEWI YANA

Iklan

MA’RIFATULLAH

Dalam khasanah islam, kata ma’rifatullah sudah tidak asing lagi bagi kaum muslimin. Ma’rifatullah berarti mengenal Allah dengan sebenar-benarnya dan merasakan kehadiran-Nya.. 

Kemampuan kita merasakan kehadiran Ilahi dalam kehidupan ini, bahwa Allah lah yang selalu senantiasa bersama kita dalam segala keadaan dan tidak pernah lalai mengurus kita, secara otomatis akan dapat mengantarkan kita untuk menghindari segala bentuk perbuatan maksiat dan secara otomatis juga akan membawa kita pada ketaatan, serta membawa kita pada kekuatan iman dan kebersandaran yang mutlak pada-Nya, disaat dasyatnya gelombang badai ujian datang menghampiri kita.

Karena dalam menjalani hidup ini, kita harus bisa mempersiapkan diri kita untuk menerima kenyataan-kenyaatan yang kadang tidak menyenangkan kita. Kita harus siap menghadapi segala bentuk kegagalan, kekecewaan dalam interaksi kita dengan orang lain. Dalam hubungan kita dengan sesama, kadang kita menuai kebahagiaan, kepuasaan, namun adakalanya juga kekecewaanlah yang kita dapatkan. Hal ini sangat realistis, karena tidak selalu apa yang kita harapkan berhasil, akan berjalan seperti yang kita rencanakan. Kita ini sebagai manusia, wajib usaha, tapi tidak wajib hasil, karena segala hasil usaha yang  kita lakukan, Allah SWT lah yang berhak memutuskannya, apakah akan berhasil atau tidak. Dan dalam menerima segala  keputusan dan ketentuan Allah terhadap hasil usaha yang kita lakukan, semua tergantung pada diri kita sendiri, apakah kita mampu menyikapi semua hasil usaha kita itu dengan bijak atau tidak.

Bila berhasil, wajib kita syukiri, dan bila gagal, kita tidak perlu meratapi dan menyesalinya secara berlebihan, stres, apalagi sampai menyalahkan pihak-pihak tertentu. Ini menandakan kurangnya kedewasaan dalam ketauhidan kita. Karena apabila kita telah benar dalam ma’rifatullah kita, tentunya kita bisa melihat bahwa segala sesuatu berasal, bergantung dan berada dalam ketentuan takdir Allah.

 

Apabila kita bisa menyadari hal tersebut, tentunya kita tidak akan pernah merasa begitu sangat terpukul, stres, tertekan apabila kita gagal dalam suatu usaha. Karena kita menyadari, bahwa segala sesuatu yanjg terjadi dalam hidup kita, telah tertulis dalam kitab Luhul Mahfuzh, seperti tertulis dalam firman-Nya disurah Al Hadid, ayat 22 :  ”Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”

 

Untuk bisa menjadi seorang hamba Allah yang benar-benar bisa meraih ketenangan dan kebahagiaan, yang paling mendasar, kita perlukan hanyalah memperbaiki ma’rifatullah kita kepada Allah SWT, tawakal dan selalu berbaik sangka terhadap segala ketentuan-Nya. Karena sesungguhnya hanya orang yang benar dalam ma’rifatullahnya dan  hanya hamba Allah yang  tawakal saja  yang mempunyai kemampuan untuk tidak merasa stres atau tertekan. Dan sesungguhnya kemampuan tidak merasa stres atau tertekan merupakan karakter mulia yang dapat membantu menghilangkan kesulitan dan meraih kesuksesan.

Seorang hamba Allah yang benar dalam ma’rifatullah nya akan menjadi hamba Allah yang tawakal dan buah dari ketawakalannya adalah keikhlasan. Apabila seorang hamba sudah mencapai tingkatan ini, maka ia mampu menyadari kalau dirinya ditimpa suatu masalah atau keinginannya tidak terpenuhi, semua itu adalah takdir hidupnya. Dia juga menyadari bahwa manusia kadang bisa jadi membenci suatu peristiwa, namun didalamnya justru terkandung kebaikan baginya. Dan bisa jadi dia menyukai sesuatu, namun ternyata didalamnya mengandung keburukan baginya. Dan dia menyadari bahwa kebaikan itu berada dalam pilihan yang ditetapkan Allah SWT.

Dia menyadari sepenuhnya, bahwa dia pasti akan mendapatkan bagian dari jatahnya, baik berupa kesedihan, penderitaan, ataupun kebahagiaan dan kesenangan. Dirinya tidak pernah merasa kaget atau bersedih, dan dalam keadaan bagaimanapun dia tidak pernah merasa tertekan, semua karena ia benar-benar menyandarkan hidupnya secara total hanya kepada Allah, berbuat dan melakukan segala sesuatu pun hanya karena Allah SWT.

 

BERSYUKUR

KIta harus bisa jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Jadilah Ahli Syukur, niscahya hidup kita selalu bahagia, karena bersyukur berarti mempertahankan nikmat. Pengertian syukur adalah : merasa dalam hati, menyebutnya dengan lidah dan mengerjakannya dengan anggota badan.

Maksudnya adalah, merasa dalam hati, misalnya mensyukuri semua nikmat hidup, nikmat rezeki, kepandaian dan seluruh alam semesta serta segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya yang Allah karuniakan dan sediakan untuk seluruh hamba-Nya.. Mengucapkan dengan lidah, bersukur, Alhamdulillah dengan sepenuh hati.

Dan maksdnya mengerjakan dengan anggota badan adalah, kita mensyukuri segala nikmat Allah untuk kita, sejak mula awal penciptaan kita, dimana Allah SWT selalu mengurus kita, memenuhi segala hajat kebutuhan kita, bahkan disaat kita belum mampu menyadari apa-apa saja yang menjadi hajat kebutuhan kita, Allah SWT telah melengkapinya. Ini semua wajib kita syukuri, dengan menjalankan semua perintah dan larangan-Nya dengan sebaik-baiknya, dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih, tanpa merasa keberatan dan tidak bermalas-malasan.

Allah SWT sangat Maha Pengasih dan Penyayang pada kita semua, kita diperintah untuk mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepada kita, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu sangat tidak mungkin.  Allah memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan Kita diharuskan mensyukuri nikmat dari Allah menurut kadar kelemahan dan kemampuan Kita.

Ketahuilah : Tiada Allah memberikan suatu nikmat pada hamba-Nya, kemudian hamba itu mengucap Alhamdulillah melainkan nilai pujian Alhamdulillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Nabi Dawud as berkata : Tuhanku, anak Adam ini telah Engkau beri pada tiap rambut ada nikmat diatas dan dibawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepada-Mu. 

Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu cukup bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu dari Aku. (mengutip buku Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari).

 Ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan kita mensyukuri nikmat Allah dapat dilihat di surah  : 2:152, 2:172, 2:239, 3:43, 3:123, 3:144, 3:145, 5:6, 5:89, 7:58, 7:144, 7:189, 14:7, 16:121, 27:40, 28:17, 28:73, 29:17, 31:12, 34:13, 39:66

Sebaiknya kita jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah diri kita agar tidak menjadi hamba Allah yang tidak bisa mensyukuri nikmat dari Allah.

Dan bila ada dari kita yang masih merasa kurang puas dengan nikmat rezeki yang sedikit yang telah dikaruniakan Allah untuk kita, dan sering mengeluh, seperti tidak cukup dan sebagainya, maka sadarlah segera, karena  Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak. Dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, berarti tidak syukur kepada Allah” (Hadits Nabi saw dikutip dari Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari)

UJIAN KELAPANGAN DAN KESEMPITAN

FOTO KTP editDalam kehidupan ini, terkadang Allah SWT melapangkan dan menyempitkan urusan kita, sebenarnya Allah melapangkan kita, supaya kita tidak selalu dalam berada dalam kesempitan dan Allah menyempitkan kita supaya kita tidak hanyut dalam kelapangan. Allah SWT mengubah-ubah keadaan kita dari kelapangan pada kesempitan,  sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak terbebas dari hukum ketentuan-Nya, dan supaya kita selalu berdiri diatas landasan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah)

Mengutip Kitab Al Hikam, Ibn Atha Illah al-Sakandari, Abu Bakar Assiddiq ra berkata, ”kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan, sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan atau kelapangan kami hampir tidak sabar atau tidak tahan”  Karena itu  bagi beberapa orang arif, jika merasa lapang lebih khawatir/takut daripada jika berada dalam kesempitan, karena didalam masa kelapangan, hawa nafsu dapat lebih berperan mengambil bagiannya sedangkan dalam masa sempit, hawa nafsu lebih sulit memperdaya.

Namun bagi sebagian orang, justru merasa nyaman-nyaman saja dengan ujian kelapangan yang diberikan Allah, dan kadang ada yang terhanyut dalam ujian kelapangan yang diberikan-Nya, hingga menomor duakan Allah atau bahkan yang terparah melupakan Allah, Sang Pemberi Nikmat dan Kelapangan. Setelah Allah mencabut ujian kelapangan dan menggantinya dengan ujian kesempitan, maka barulah orang itu sadar dan kembali mengingat Allah.

Tidak sedikit dari kita yang tidak mampu menghargai keberadaan Allah dikala senang, disaat lapang, dan baru kembali mengingat-Nya, mencari-Nya, mendekati-Nya, saat berada dalam kesulitan/kesempitan.  Apabila kita tidak ingin, diingatkan oleh Allah melalui ujian kesempitan, ujian kesusahan,  maka ingatlah Allah selagi kita berada dalam kelapangan dan kemudahan.

Tunaikanlah semua kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita melupakan fitrah kita diciptakan-Nya, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, seperti tertulis dalam firman-Nya di surah Adz Dzariyat ayat 56 Allah swt berfirman :  ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mengabdi kepada-Ku”

Mengutip Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari, Wahb bin Munabbiih berkata, Allah swt berfirman : Hai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan jangan engkau beritahukan kepada-Ku apa yang menjadi hajat kebutuhan yang baik bagimu (yakni engkau jangan mengajari kepada-Ku apakah yang baik bagimu).  Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hamba-Ku.  Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintah-Ku dan menghina siapa yang meremehkan perintah-Ku.  aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku sampai hamba-Ku memperhatikan hak-Ku (yakni memperhatikan kewajibannya terhadap Aku)”

Dengan memperhatikan Firman Allah tersebut diatas, sebaiknya kita meyakini, bahwa sebenarnya, hidup kita susah atau senang, sebenarnya itu sangat terkait dan tergantung pada seberapa besar keimanan kita kepada Allah dan pada seberapa besar kita menempatkan Allah dalam hati, sudahkah menjadi prioritas utama? Karena semua Firman Allah pasti benarnya.  Kita ingin hidup kita berjalan mulus, rezeki lancar, dapat meraih cita-cita, tapi kita tidak mementingkan Allah dan mengabaikan Allah yang Maha Pemberi Segala.

Sebenarnya Allah swt, memberikan kita ujian kesulitan, kesempitan, itu untuk kebaikan kita sendiri, untuk menyadarkan kita dari kelalain jiwa dan ketahuilah Allah swt tidak pernah membuat hamba-Nya menderita, kita menderita karena ulah kita sendiri.

 

DEWI YANA

JALAN REZEKI

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah mengkaruniakan petunjuk dan jalan bagi semua umat-Nya agar kita semua tidak berada dalam kegelapan, tidak berada dalam keraguan dalam usaha kita mencari penghidupan. Allah, melalui Rasul-Nya telah memberikan kita petunjuk jalan-jalan rezeki yang telah diatur dan dijelaskan dalam Al Quran dan as sunnah. Seandainya kita mau memahaminya, menyadarinya dan menggunakan jalan-jalan itu dengan baik, niscaya Allah Yang Maha Pemberi Rezeki dan Yang Memiliki Kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rezeki dari setiap arah, serta akan dibukakan keberkahan dari langit dan bumi.

“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud 56). “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat : 58)

Baca lebih lanjut

MEYAKINI ALLAH SEDANG MELIHAT KITA

FOTO KTP editDalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu meyakini Allah sedang melihat kita”  karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai.  Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat)   dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).

Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah :  menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.

Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong  menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, akan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.

Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu  lebih menjurus kepada sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.  Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.

Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)

Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada.  Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti.  Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).

Mengutip buku  Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid :   Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ?  Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.  Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).

Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ?  Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi.  Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi.  Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut.  “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut.  Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.

Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).

Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hadid 4)

 

Dewi Yana