Archive for Mei 20th, 2009

GHIBAH

Allah SWT telah menerangkan dengan sangat jelasnya, bahwa sangat tercelanya ghibah, seperti tertulis dalam firman-Nya di Al Quran, surah Al Hujurat (49) ayat 12 :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

 

Makna Ghibah

1. Ghibah menurut bahasa ialah:  membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.

2. Secara definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi saw pada suatu hari bersabda:

Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi saw: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Bentuk-Bentuk Serta Jenis-Jenis Ghibah

1. Aib dalam agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan yang najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya,  dia suka mengghibah, dan sebagainya.

2. Aib Fisik. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.

3. Aib duniawi: seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.
4.Aib karakter. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.

5. Aib pakaian. Apabila kita membicarakan tentang bajunya yang kebesaran, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kotor, dan sebagainya.

6. Prasangka ruruk tanpa alasan. merupakan ghibah hati.

7. Apabila kita mendengarkan ghibah. tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan orang-orang yang sedang ghibah, maka kita sudsah termasuk berghibah.

 

  1. Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda : ”Orang yang menggunjing orang lain seperti orang yang memasang ketapel. Ia membidik kekanan dan ke kiri. Demikianlah ia melemparkan kebaikan-kebaikannya” Beliau juga bersabda : ”orang yang menggunjing saudaranya berarti menginginkan kejelekannya. Pada hari kiamat, Allah menghentikan langkahnya diatas jembatan jahanam, hingga keluar apa yang pernah dikatakannya.” Selanjutnya sabda beliau : ”Ghibah itu adalah jika engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang hal-hal yang tidak disukainya, baik tentang kekurangan pada tubuhnya, nasabnya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, maupun dunianya, hingga pakaiannya, jubahnya, dan kendaraannya.”    Dalam hadis lain Rasullullah saw bersabda : ”Barang siapa yang menggunjing seorang ulama, pada hari kiamat akan dituliskan pada wajahnya, :”Inilah orang yang berputus asa dari rahmat Allah”  (mengutip dari Imam a-Ghaali, Menyingkap Hati menghampiri Ilahi).

 

Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini ! (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya

Sesama muslim (HR. Muslim 2564)

 

Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450

 

Jadi bila masih ada dari kita yang kadang masih suka menggunjing, maka sadarlah segera, karena ghibah merupakan dosa besar yang hanya akan diampuni, setelah orang yang kita gunjing memaafkan kita. Dan biasanya, kebanyakan dari kita, sangat malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan kita,  pada orang yang kita gunjing..

 

Untuk selalu mendapatkan materi dakwah terbaru langsung ke alamat email anda, silahkan bergabung di : Milis Jalan Dakwah yahoogroups

 

DEWI YANA

http://dewiyana.cybermq.com

Iklan

SHOLAT TAHAJUD

Sholat tahajud adalah sholat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari, setelah bangun tidur. Pelaksanaan sholat tahajud ini akan bernilai lebih jika dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir.  Sebelum perintah sholat lima waktu turun, Rasulullah Muhammad saw pernah memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan sholat tahajud. Hal ini tersirat dalam beberapa hadist:

 

Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda : “ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)

 

Bersabda Nabi Muhammad SAW : “Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )

 

Selain itu, Allah sendiri juga berfirman: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.
(QS Al Isro ayat 79)

 

 

Waktu yang paling afdhal untuk melaksanakan shalat Tahajud adalah  :

1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )

Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”  Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rasulullah saw bersabda :  “Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang  melaksanakannya.” (HR Ahmad)

Nabi Muhammad saw bersabda  : 

“Pada tiap malam Allah SWT turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeruKu, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepadaKu, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim)

 

Jumlah rakaat shalat Tahajut :

  1. Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13     (tiga belas) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah saw :“ Shalat malam itu, dua-dua”      (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.

Rasulullah SAW bersabda :

“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)

 

DEWI  YANA

http://dewiyana.cubermq.com