Archive for Juni, 2009

HATI-HATI TERHADAP KESYIRIKAN

Hidup ini tidak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Cobaan atau ujian yang Allah SWT berikan kepada manusia, ada yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: kekayaan kesehatan, kehormatan dan kesuksesan. Ada pula ujian dan cobaan yang diberikan kepada manusia berupa hal yang tidak menyenangkan, seperti: kemiskinan, sakit; kegagalan dan lainnya.. Sebagaimana tertulis dalam firman Allah SWT,  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya [21]: 35)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang pasti akan ditimpakan kepada setiap manusia. karena itu, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbesit sedikit pun di dalam diri kita untuk berburuk sangka terhadap Allah SWT akan ujian yang kita alami.

Yakinlah bahwa apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang terbaik. Allah SWT berfirman, “……Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah [2] : 216)

Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap sabar dan meyakini, bahwa d balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala yang besar dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah Berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya,’ melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim).

Tapi pada kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian kesulitan / kegagalan  yang diberikan Allah SWT dengan sabar, mengharap kebaikan / ganti yang lebih baik, dan ampunan dari Allah SWT. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang mengambil cara dan jalan pintas untuk menghilangkan musibah dan ujian tersebut.

Jalan pintas yang ditempuh antara lain dengan mendatangi dukun atau paranormal untuk mendapatkan kesembuhan dan atau untuk mengetahui peruntungan nasib, mendengarkan ramalan nasib dan mempercayainya. Meminta paranormal agar memprediksi masa depan kita, itu semua adalah sebuah kesesatan. Dan yang sangat memperhatinkan, kesesatan semacam itu, sekarang ini sudah semakin merajalela dimana-mana.

Mendatangi dukun atau paranormal merupakan perbuatan yang dilarang keras oleh Rasulullah SAW.  Perhatikan sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu dia percaya dengan apa yang disampaikannya, maka sungguh dia telah kufur (murtad) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).

Terlebih lagi apabila kita mempercayai suatu benda, misalnya sebuah batu yang kita percayai memiliki kemampuan atau keistimewaan khusus seperti mendatangkan kesembuhan. Yang mana sebenarnya, kesembuhan adalah hanya dari Allah SWT, maka ini jelas merupakan kesyirikan yang besar, yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

Kalau seandainya ada batu yang boleh diagungkan oleh kaum Muslimin dan boleh bagi mereka mengharapkan berkah darinya, tentu batu tersebut hanyalah “Hajar Aswad”, ketika kaum Muslimin disunnahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengecupnya saat melakukan Thawaf, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW

Pernah suatu ketika Umar bin Khattab r.a mencium Hajar Aswad seraya berkata, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW ;menciummu, maka aku pun tidak akan menciummu.(HR. al-Bukhari).

Beliau mencium Hajar Aswad semata-mata karena kepasrahan beliau terhadap syariat yang ditetapkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Dan semata-mata ingin mencontoh apa yang diperbuat oleh Rasulullah SAW, dan dengan mencontoh Rasulullah SAW inilah didapatkan barokah.

Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni. Perhatikan firman allah SWT berikut ini: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa [4] : 48)

Perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini: “……Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72).

Berikut beberapa hadits Rasulullah SAW yang melarang kita mendatangi dan mempercayai ramalan para tukang ramal dan dukun sebagai berikut :

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW  bersabda, “Tiga orang yang tidak masuk surga: Pecandu khamer, pemutus silaturrahim dan pembenar sihir” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa yang mendatangi para peramal, lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima baginya shalat selama empat puluh malam  (HR. Muslim)

Apalagi bila sampai bertanya kepada paranormal atau dukun lalu membenarkannya / mempercainya, maka dosanya akan lebih besar lagi. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi para peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Al-Hakim, hadits shahih)

Lemahnya iman dalam diri kita, adalah merupakan penyebab utama kita jadi mudah terjebak dalam syirik. Saat kita mengalami ujian kesulitan yang berat, saat kita mengalami kekecewaan dalam hidup, bagi yang lemah imannya, akan sangat mudah terjerumus dalam kesyirikan. Padahal segala sesuatu yang terjadi, baik itu ujian kesulitan ataupun musibah yang menimpa, semuanya terjadi atas kehendak dan ijin Allah, yang mana bila kita bisa bersabar dan rela menerimanya, serta berikhtiar hanya di jalan yang restui-Nya dalam usaha untuk bangkit kembali dari kesulitan dan musibah yang menimpa, maka pasti Allah SWT akan menjawab ikhtiar kita dan memberikan pertolongan pada kita.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS.At-Taghabun:11).

Ketahuilah, siapa saja yang tidak bisa menghindarkan bahaya yang menimpa dirinya, maka ia pasti tidak akan pernah bisa menghindarkan bahaya yang menimpa orang lain.  Dan ketahuilah bahwa seseorang, siapapun dia, tidak akan pernah bisa mengangkat atau menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah, tanpa ijin Allah. Dan seseorang, siapapun dia, tidak akan pernah bisa memberikan kesembuhan, kecuali atas ijin Allah.

Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi peringatan bagi kita semua untuk berhati-hati dari kesyirikan. Dan semoga bagi siapa saja yang sudah  terlanjur melakukannya baik dilakukan secara sengaja, ataupun karena ketidaktahuannya, semoga bisa segera bertaubat sebelum ajal tiba.   Semoga Allah SWT memberikan Petunjuk-Nya kepada kita semua untuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan, Amin Ya Robbal Alamin.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

SABAR DAN IKHLAS

Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita di uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.

Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit,  kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.  Perhatikan firman Allah SWT berikut ini Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)

Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah. Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?

Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah.  Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.

Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.

Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda  Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).

Rasulullah SAW  bersabda :  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi). 

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita harus rela menerima segala  ketentuan  Allah  dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :  “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)

Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW  sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”  Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT  “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya,  insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :

  1. Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS Al Baqarah [2] : 286).   Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita.
  2. Sebenarnya, kita semua pasti mampu untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
  3. Coba kita tanyakan pada diri kita, saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya? Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah tetap terjadi dan menimpa kita kan?  Jadi lebih baik kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya, maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap kita, adalah segalanya.
  4. Kita harus selalu baik sangka kepada Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah.  Kita harus bisa sabar dan ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah.  Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi : Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari)

Karena itu, marilah kita sabar dan ikhlas dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah pasti benar. Percayalah, sabar dan ikhlas, akan membuahkan kebahagiaan hidup.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

DOA

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shalli wasallim wabaarik ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammadi. Astaghfirullahal a’dzhiim wa atuubu ilaih.

Ya Allah, selamatkanlah kami semua dari semua dosa dan perbuatan kami sendiri. Selamatkanlah dari kehinaan dan permaluan. Selamatkanlah dari fitnah dunia dan segala apa yang membahayakannya. Ya Allah, Engkau yang menahan sesuatu dan menjaganya. Engkau jugalah pemilik segala pertolongan yang kami-kami butuhkan. Semua beban kami, kesulitan kami, kesusahan kami, hanya Engkau yang mampu mengatasinya. Hanya Engkau ya Allah. Tidak ada selain Engkau yang mampu menolong kami. Tidak ada satupun pertolongan manusia bisa menolong kami jika Engkau tiada menghendakinya.

Dan tidak ada satupun bahaya menimpa kami jika Engkau juga tiada mengizinkannya. Ya Allah, terlalu kecil semua urusan kami buat-Mu. Bahkan semua urusan manusia jika dikumpulkan dan dihadapkan pada-Mu, juga teramat kecil. Tiadalah salah kami yang lemah ini bener-benar bergantung kepada-Mu. Jika ada dosa kami, maka ampunilah ya Allah. Jangan sampai dosa kami menyengsarakan kami dunia akhirat

Dan jika ada kebaikan dari diri kami, mudah-mudahan ia mencukupi buat diri kami mendapatkan rahmat-Mu. Wahai yang maha pengasih dan yang maha peyayang, sungguh kami sangat berhajat akan pertolongan-Mu. Ya Allah, betapa kami-kami ini sudah menjadi hamba-Mu yang lalai dan lalai terus. Diberi sedikit nikmat saja, sudah lari kami menjauh dari diri-Mu. Adalah pantas jika kemudian kesusahan dan kesulitan kembali Engkau hidangkan di kehidupan kami.

Ya Allah, kami pahami semua kesulitan kami adalah sebuah bentuk Kasih Sayang-Mu terhadap kami. Engkau tidak menghendaki kami susah di negeri yang kami tidak bisa lagi kembali. Engkau menghendaki kami bertaubat dan meniti jalan lagi kembali menuju diri-Mu. Ya Allah, bimbinglah kami agar kami bisa menemukan mutiara di balik semua kesusahan kami. Penuhi hati kami dengan kesabaran, keikhlasan menjalani hidup, dan niatan yang kuat untuk memenuhi hidup kami dengan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, kepada siapa lagi kami mengadu jika bukan pada-Mu. Kepada siapa lagi kami bersandar jika bukan pada-Mu. Kepada siapa lagi kami berlindung dari segala ketakutan dan kegelisahan kami, jika bukan kepada-Mu.

Tunjukkan segala jalan buat kami untuk mendapatkan ridha-Mu dan Pertolongan-Mu. Ya Allah, sesiapa yang membaca doaku ini, lalu ia menambahinya dengan apa-apa yang menyesakkan dadanya, kabulkanlah. Sesiapa yang membaca doa ini, dan kemudian ia menambahi dengan apa yang memusingkannya, dan dengan apa yang menjadi hajatnya, kabulkanlah ya Allah. Engkau betul-betul Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang tidak mungkin bagi diri-Mu. Kekuasaan-Mu tiada berbatas dan tiada bertepi.

Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adzhiem, washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin, walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.   (Ustadz  Yusuf Mansur)

PENTINGNYA MENJALIN SILATURAHIM

Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif ketika interaksi kita tidak membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin.  Dan negatif akan timbul, saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang bisa berakibat memutuskan silaturahim dan menimbulkan kebencian.

Pernik-pernik kehidupan nyata kadang tidak selalu seindah yang kita inginkan. Dalam interaksi kita dengan orang lain, bisa saja terjadi khilaf dan salah paham, yang membuat jalinan persaudaraan atau pertemanan menjadi  tidak harmonis. Berawal dari khilaf dan salah paham inilah yang sering mengakiibatkan dua orang yang pada awalnya saling menyayangi dan memperhatikan satu sama lain, menjadi renggang, menjadi jauh. Dan  muncullah kekakuan-kekakuan dalam hubungan. Interaksi persaudaraan, persahabatan, pertemanan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan, sebaliknya yang ada adalah kekecewaan dan kebencian.

Bahkan yang lebih repot lagi saat keridakharmonisan hubungan itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan dan pertemanan atau persahabatan bukan lagi hubungan antar dua pihak semata, bahkan merembet. Bisa jadi seluruh keluarga dan atau seluruh teman dekat kita pun akan ikut menjauhi dan ikut memutus hubungan silaturahim, dikarenakan masalah pribadi kita dengan seseorang.  Hal seperti ini pernah dikatakan Rasulullah SAW. “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu sebab yang menjadikan begitu sulitnya kita menjalin kembali hubungan yang telah renggang adalah karena tertutupnya peluang berkomunikasi.  Biasanya masing-masing saling bertahan dan saling menunggu untuk tidak memulai komonikasi duluan. Bagi beberapa orang kadang memang tidak mudah menggerakkan hati untuk memulai komunikasi atau berkunjung ke orang yang pernah dibenci. Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati dan begitu berat beban batin.. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan mempengaruhi seseorang bahwa dia adalah pihak yang patut dihubungi dan atau dikunjungi terlebih dahulu.   

Bukankah Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya : Sambunglah orang yang memutus silaturahim denganmu. Berilah hadiah kepada orang yang enggan memberimu. Dan jangan hiraukan orang yang menzalimi kamu.” (HR. Ahmad)

Perhatikan dan renungkan dengan seksama sabda Rasulullah SAW berikut ini  “tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan hubungan) dengan saudaranya melebihi tiga malam. hendaklah mereka bertemu untuk berdialog, mengemukakan isi hati. dan yang terbaik adalah yang pertama memberi salam (menyapa).” (HR. Bukhari)

Perhatikan beberapa firman Allah SWT yang terkait silaturahim :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.(QS. An Nissa [4] : 1)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nissa’ [4]: 36)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (Al-Baqarah [2] : 83)

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Maaidah ayat 8 sebagai berikut:  Maha Benar Allah dalam firmanNya, ”Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS.  Al Maa’idah  [5] : 8 )

Firman Allah swt. “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir….” (QS Al Maa’idah  [5:] : 54)

Manfaat lain dari menjalin silaturahim adalah seperti yang dikatakan Rasulullah SAW. “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)

Nabi SAW bersabda:   “Hubungilah orang yang telah memutuskan engkau, dan berilah kebaikan kepada yang telah berbuat jahat kepada engkau, dan katakanlah (berbicaralah) dengan hak (yang sebenarnya) walaupun terhadap dirimu sendiri” (ibn Najar)

Dalam usaha kita menjalin kembali silaturahim yang telah putus, maka sebaiknya kita mengingat dan membayangkan kebaikan-kebaikan saudara dan atau teman kita. Jangan mengingat kesalahan yang ada atau mencari siapa yang paling salah dan benar, karena hal itu kerap akan menimbulkan kebencian dan bisa menghilangkan kebaikan orang lain. Bukankah kitapun sebagai manusia biasa pastinya tidak luput dari khilaf dan berbuat salah?  Jadi bila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan seorang teman atau saudara, dan kebetulan kita berada di pihak yang disakiti, maka alangkah sangat terpujinya apabila kita bisa berlapang dada memaafkan kekhilafan teman kita itu. Jangan sampai kebaikan teman kita selama ini, terhapus dengan satu kesalahan yang dibuatnya.

Dan apabila dalam ketidakharmonisan hubungan kita dengan teman atau saudara, kemudian ternyata kita menyadari bahwa sebenarnya kita berada di pihak yang salah, pihak yang telah menyakiti, melukai. Maka berjiwa besarlah mengakui kesalahan kita, jangan malu untuk minta maaf, karena tidak akan pernah berkurang kemuliaan seseorang dan tidak akan pernah jadi buruk nama baik seseorang,  apabila ia mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Yang ada justru kemuliaan bagi siapapun yang berjiwa besar mengakui kesalahan dan menjalin kembali silaturahim yang sempat putus, yang diakibatkan kesalahan yang dilakukannya.

Memang agak sulit untuk menjalain silaturahim dengan orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita atau yang tidak mau kita hubungi lagi. Tetapi apabila kita mengupayakan diri sekuat tenaga untuk tetap menghubunginya, untuk tetap menjalin silaturahim dengannya dan mengupayakan untuk bertemu dengannya.  Maka inilah yang disebut silaturrahim yang sebenarnya.  Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, ‘Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahim itu ialah menyambungkan apa yang telah putus. ‘ (HR Bukhari).

Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, sudahkah kita berusaha menjalin silaturahim dengan orang yang memutuskannya dengan kita? Atau kita hanya berdiam diri membiarkan silaturahim tersebut putus, karena merasa bukan kita ini, yang memutuskan silaturahim?

Agama Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam bentuk pemutusan hubungan silaturahim, menjauhi dendam dan kebencian. Karena itu,  jika ada seseorang yang menjauhi kita dan memutus tali silaturrahmi dengan kita, maka kita diharapkan proaktif untuk memperbaiki dan membangun hubungan dengan orang yang memutuskannya, agar hubungan tersebut baik kembali. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, terlebih lagi kalau kita berada dipihak yang benar atau pihak yang disakiti. Tetapi percayalah, apabila kita melakukannya tulus ikhlas karena Allah, maka tidak akan sulit.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

 

KEJUJURAN

Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah menjadi hal yang sangat langka  dalam kehidupan kita.   Karena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial, dimana ketidakjujuran begitu sangat transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk dalam kehidupan manusia.

Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman, manusia dalam mencari harta tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR. Muslim).

Perkataan Nabi Muhammad SAW, telah menjadi kenyataan, dimana sekarang ini banyak manusia tidak lagi menerapkan kejujuran dalam kehidupannya, hingga tidak sedikit dari mereka yang tidak mempedulikan jalan yang halal dan haram dalam mencari uang,  jabatan atau dalam transaksi jual-beli.

Padahal dalam urusan jual beli, Rasulullah SAW menyatakan bahwa keberkahan hanya akan diraih jika kedua belah pihak mengedepankan sifat jujur.  Namun keberkahan itu akan dicabut manakala keduanya atau salah seorang dari mereka tidak peduli lagi dengan kejujuran. “Kedua pihak (penjual dan pembeli) berhak untuk menentukan pilihan selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan apa adanya maka jual beli mereka akan mendapatkan keberkahan. Namun manakala keduanya berbohong dan menyembunyikan kebenaran, maka keberkahan itu akan dicabut kembali”. (Al-Hadits)

Berikut beberapa firman Allah SWT tentang perintah agar kita jujur :

Allah SWT telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar mereka bertaqwa dan senantiasa bersikap shidiq dan benar, sehingga kesempurnaan ketakwaan seseorang harus senantiasa diiringi dengan kejujuran dan kebenaran. Perhatikan firman-Nya berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119).

 “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar, kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya Itulah keberuntungan yang paling besar.” (Al-Ma’idah: 119).

“Dan sebaliknya akibat dan hukuman yang akan dikenakan terhadap orang-orang yang dusta dalam hidupnya. Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” (Az-Zumar: 60)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al baqarah [2] : 282}

Ash-shidq (kejujuran) merupakan  satu kewajiban agama yang berlaku dalam semua bidang kehidupan dan dalam semua keadaan. Baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun kehidupan berjamaah. Kejujuran, adalah suatu sifat yang sangat mulia. Dan kedudukan orang-orang shiddiqin adalah di bawah kedudukan para Nabi. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini :  “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nissa [4] : 69)

Untuk bisa meraih sifat jujur dalam kehidupan, pertama-tama harus diawali dengan jujur terhadap diri sendiri. Terutama jujur dengan kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah SWT. Untuk bisa komitmen dengan sifat ini sangat dibutuhkan motivasi yang tinggi, tekad yang kuat, semangat yang membara, serta keyakinan yang teguh.  Dan sangat dibutuhkan sikap muraqabah, yakni menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan  mengawasi  kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat

Menerapkan dan membawa sifat jujur dalam kehidupan sehari-hari, memang cukup sulit untuk dilakukan, seperti diibaratkan oleh Ibnul Qayyim bahwa membawa sifat jujur dalam kehidupan, seperti mengangkat gunung yang tinggi. Tidak akan ada yang mampu mengangkatnya melainkan orang-orang yang kuat kemauan dan niatnya. Karena kejujuran yang sesungguhnya adalah kejujuran yang ditampilkan saat tidak ada yang bisa menyelamatkan nyawa kita kecuali dengan berbohong

Memang bukan hal yang mudah untuk bisa jujur dalam segala urusan dan dalam semua keadaan. Untuk itu, Nabi Ibrahim a.s, seorang Nabi yang shaleh masih tetap dengan penuh tawadhu’ memohon kepada Allah agar senantiasa tutur katanya dijaga oleh Allah sehingga menjadi contoh yang baik bagi generasi kemudian. Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”. (Asy-Syu’ara’: 83-84)

Ibnul Qayyim menjelaskan dengan rinci keutamaan sifat shidiq di dalam kitabnya Madarijus Salikin, bahwa dengan sifat ini akan dapat dibedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang yang benar beriman. Sifat inilah yang menjadi ruh amal perbuatan. Oleh karena itu kedudukannya di bawah kedudukan kenabian yang merupakan kedudukan manusia tertinggi di atas muka bumi ini.    

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nissa [4] : 69)

Selanjutnya Ibnul Qayyim menjelaskan dengan lebih rinci bahwa sifat ini sebagaimana dianjurkan dalam perkataan, juga dalam perbuatan. Keadaan. Shidiq dalam perkataan artinya lurusnya lisan dengan ucapan seperti lurusnya ranting di atas dahan. Shidiq dalam perbuatan adalah tegaknya perbuatan sesuai dengan tuntunan perintah seperti tegaknya kepala di atas tubuh seseorang. Dan shidiq dalam keadaan adalah tegaknya amalan-amalan hati dan anggota badan atas dasar ikhlas, kesungguhan dan pengerahan kemampuan yang maksimal

Oleh karena itu, marilah kita menelisik diri, sudah jujurkah kita selama ini?. Apabila belum, mari kita perbaiki. 

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

IKHLAS

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi atas apa yang ia lakukan. Tujuan orang yang ikhlas hanya satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT.   Seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa diberikan. Ikhlas kepada Allah SWT berarti seseorang melakukan ibadah hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya.

Apapun yang dilakukan kalau tujuan kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah.  Seorang yang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apapun yang dilakukannya, hanya Allah lah tujuannya.

Allah Maha Tahu segalanya dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,  apabila kita melakukan semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah lah yang akan menolong segalanya, percayalah.

Orang benar-benar ikhlas, sekalipun dirinya dibilang tidak ikhlas, ia tidak akan membela diri, sebab kalau dia membela diri apalagi sampai marah karena dikatakan tidak ikhlas, itu merupakan tanda-tanda ketidakikhlasannya. Karena orang yang ikhlas, tidak perduli pada penilaian mahluk, ia hanya perduli pada penilaian Allah SWT dan keikhlasannya hanya ditujukan untuk Allah, sehingga tidak perlu orang lain mengetahuinya. Bila ia ingin keikhlasananya diketahui orang lain, itu tandanya  ia belum ikhlas.

Allah SWT telah menjanjikan pahala kepada hamba-hambanya yang ikhlas. Perhatikan firman Allah SWT tentang balasan pahala bagi hamba Allah yang ikhlas, yang antara lain, seperti tertulis dalam surah Al Maaidah ayat 85 dan surah An Nisaa ayat 146, sebagai berikut :

”Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya)”. (QS. Al Maaidah [5] : 85)

”Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar” (QS. An Nisaa’ [4] : 146)

Perhatikan hadits Rasulullah SAW : ” Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas semata-mata Untuk-Nya dan mencari ridha-Nya “. ( HR. Abu Dawud dan Nasai ).

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :  Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”

Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mengetahui bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluh-lantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).  Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”  Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi atau baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”  Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sebesar dan sedasyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).  “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” (Kembali bertanya para malaikat).

Allah yang Mahatinggi dan Maha Sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).  Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”   

Allah SWT yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Segala kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya benar-benar bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita, bagaimana seorang hamba yang ikhlas ternyata mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat.  Yaitu seorang hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Dan ini tidak mudah dilakukan, karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghargaan dan ucapan terima kasih.  Kita pun selalu tergoda dan berkeinganan untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita, keberhasilan kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan.  Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.  Inilah ujian keikhlasan amal kita.

Sekarang mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, sudah dapatkah kita menahan diri kita, dari keinginan diketahui orang lain akan keikhlasanan kita? Sudah bisakah kita menahan diri, dari membanggakan amal ibadah atau amal kebaikan atau sedekah yang kita lakukan?  Kalau sudah bersyukur dan pertahankanlah serta yakinlah, bahwa semua itu bisa kita lakukan karena pertolongan Allah semata.  Apabila belum, maka perbaikilah segera.

Begitu beratnya sifat ikhlas untuk dapat menjadi pola hidup seseorang, sampai-sampai ada ujaran yang menyebutkan, “jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi,”

Karena itu, mari kita perbaiki amal perbuatan kita dengan ikhlas dan memperbaiki keikhlasan kita dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua yang dilakukan semata-mata karena bantuan pertolongan Allah SWT.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

 

MEMAAFKAN

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah memaafkan, seperti tertulis dalam firman-Nya :  “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang  bodoh”. (QS. Al A’raf [7] : 199)

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang artinya : ” Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah : ” Ya Rabbi ! siapakah diantara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu ?” Allah berfirman :” Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.” (Kharaithi dari Abu Hurairah r.a)

Perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini, “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” (QS an-Nisaa’ [4]: 149)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:  “… dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,   .” (QS. An Nuur, 24:22)

Dan perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini :  … dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Suatu ketika seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang baik, maka Rasulullah SAW membacakan firman Allah, “Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raaf [7] : 199). Kemudian beliau bersabda lagi, “Itu berarti engkau harus menjalin hubungan dengan orang yang memusuhimu, memberi kepada orang yang kikir kepadamu dan memaafkan orang yang menganiayamu.”  (Hr. Ibnu Abud-Dunya)

Kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an :  “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imraan [3]:134)

Pemahaman kita tentang memaafkan berbeda-beda, ada dari kita yang memaafkan seseorang tapi perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hatinya.  Pelu waktu lama baginya untuk bisa kembali menjalain hubungan baik dengan orang yang telah menyakitinya.

Tapi ada juga yang bisa memaafkan dengan tulus. Mereka yang memaafkan dengan tulus inilah, hamba Allah yang sungguh-sungguh beriman dengan sebenar-benarnya, dan mengikuti perintah Allah untuk memaafkan. Ketika memaafkan, mereka tidak memikirkan besar atau kecilnya kesalahan, mereka juga tidak mengingat-ingat lagi perbuatan orang yang telah menyakitinya.  Mereka menyadari bahwa seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka dengan atau tanpa sengaja.

Orang yang bisa memaafkan dengan tulus ini tahu, bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah dan berjalan sesuai takdir-Nya, karena itulah mereka berserah diri kepada Allah, menyerahkan semua permasalahan kepada Allah. Hingga mereka tidak pernah terbelenggu dan tersiksa oleh amarah, sakit hati, dan semua itu akan membuatnya jadi memaafkan kesalahan orang lain, dan mereka lakukan itu, semata-mata karena Allah. Mereka memaafkan karena Allah.

Teman-teman pembaca Blog Jalan Dakwah Bersama, bila kita ingin menjadi seorang yang ahli budi pekerti dunia akhirat dan selalu mendapatkan rahmat-Nya, selalu dilindungi dalam pemeliharaan-Nya serta menempati surga-Nya, maka jadilah orang yang pemaaf, maafkanlah dengan tulus orang yang pernah menyakiti kita, seberapa besarpun sakit dan terlukanya hati kita, maka hendaklah kita tetap bisa memaafkan dengan tulus dan mengikhlaskannya.  Kemudian tetaplah menjalin silaturahim dengan orang yang memutuskannya, dan lakukanlah semua itu karena Allah. Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Rasulullah SAW bersabda kepada Uqbah bin Amir ra : ” Wahai Uqbah ! maukah engkau ku beritahukan budi pekerti ahli dunia dan akhirat yang paling utama ? yaitu : melakukan shilaturahim (menghubungkan kekeluargaan dengan orang yang telah memutuskannya), memberi pada orang yang tidak memberimu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (ihya ulumuddin)

Dalam hadist lain disebutkan : ” Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya dan ditaburi rahmat-Nya serta dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) .” (HR. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi)

Seorang yang bertakwa, adalah seorang yang mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas, sebenarnya masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti, melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (kata-kata sebagian dikutip dari Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Orang yang mampu menahan marah dan memafkan oleh Nabi SAW disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).

Memaafkan berarti menghapuskan, kemudian tidak menghukumnya sekalipun ia mampu melakukannya. Ini adalah perjuangan untuk pengendalian diri yang lebih tinggi dari menahan marah. Kerana menahan marah hanya upaya menahan sesuatu yang tersimpan dalam diri, sedangkan memaafkan, menuntut orang untuk menghapus bekas luka hati akibat perbuatan orang. Ini tidak mudah, oleh kerana itu wajarlah ia dianggap perilaku orang bertakwa.

Berikut beberapa perintah Allah SWT dalam Al Quran, tentang memaafkan :

” ……dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa.. ” (QS. Al Baqarah  [2] ; 237)

” …..dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  ” (QS. An Nuur [24] ; 22)

” …….karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran [3] ; 159)

” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.  .” (QS. Al A’raaf [7] ; 199)

“….. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran  [3] ; 134)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Q.S Asy Syuura [42] :40)

Setelah semua uraian diatas, mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita,  sejauh mana kita bisa berlapang dada dan bisa tulus dalam memaafkan kesalahan orang lain? Dan sejauh mana kita berani mengakui kesalahan kita dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan?  Bila ternyata kita belum bisa memaafkan dengan tulus kesalahan orang lain dan mengikhlaskannya, maka mulai saat, mari kita terapkan hal itu dalam kehidupan kita. Dan apabila kita belum berani mengakui kesalahan kita, entah itu karena gengsi atau sebab lainnya, maka ubahlah segera, karena minta maaf atas suatu kesalahan yang kita perbuat, adalah sikap mulia.  Hindari sikap egoisme dalam diri,  karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya, mau mengakui kesalahannya, serta selalu mementingkan kemaslahatan ummat.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com