FLUKTUASI IMAN

Kita semua mengetahui, bahwa iman keyakinan kita terhadap Allah SWT sangat mudah berubah, kadang naik, kadang turun.  Penyebabnya antara lain, karena suasana hati dan pikiran kita yang berubah-ubah serta bisa juga karena aktifitas duniawi kita yang menyebabkan kita kelelahan, hingga tidak jarang mengakibatkan kita kurang bisa merasakan kekhusu’an dalam ibadah dan kurang bisa merasakan getaran dalam amal ibadah yang kita lakukan

 Fluktuasi iman ini sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.”  (HR. Ibn Hibban)

Penyebab turunnya iman yang paling banyak adalah saat kita ditimpa suatu ujian atau musibah yang sangat berat. Ada dari kita yang saat mengalami ujian atau ditimpa musibah yang sangat berat, maka seketika itu juga iman keyakinannya langsung turun dratis. Semua diawali dengan kecemasan dan rasa takut yang menghantui kita. Misalnya saat kita terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sementara, pekerjaan kita adalah satu-satunya sumber penghasilan yang menghidupi keluarga. Dan kita mengetahui bahwa mencari pekerjaan tidaklah mudah, terlebih lagi apabila kita memikirkan bagaimana membiayai istri dan anak-anak kita sekolah, bagaimana membayar tagihan listrik dan pengeluaran bulanan rutin lainnya. Maka biasanya ada dari kita, yang saat itu juga akan goyah dan turun dratis keimanannya terhadap Allah SWT.

Atau saat kita mengetahui, kalau ternyata kita menderita suatu penyakit yang cukup serius dan berbahaya, dimana jalan penyembuhannya adalah dengan cara operasi.  Maka seketika itu juga akan ada rasa takut yang menyelinap dan bahkan bisa jadi menguasai kita, apabila kita tidak bisa segera sadar dan memasrahkan semuanya kepada kepada Allah. Ada dari kita yang kadang mempertanyakan takdir Allah dan sulit menerimanya, ”kenapa sakit ini harus menimpa saya, apa salah saya, saya kan selalu rajin ibadah” Disaat kita takut dan bingung itulah, biasanya setan akan mengompori kecemasan dan ketakutan yang sudah ada menjadi lebih parah lagi. Maka pada saat itu jugalah iman kita meorosot turun dratis. Dan bahkan disaat kita coba untuk tegar dan tabah, serta menguatkan kembali iman kita, kadang kecemasan dan ketakutan masih lebih dominan menguasai kita.   

Dan jalan keuar dari semua itu hanya satu, yaitu tawakal diserati dengan ikhtiar.   Kita harus yakin, bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita adalah Allah yang mengaturnya. Kita harus menyadari bahwa kita ini berada dalam ketentuan takdir dan genggaman-Nya. Semua itulah yang akan menguatkan kembali iman keyakinan kita kepada Allah, hingga kitapun dapat melalui ujian dan atau musibah yang menimpa kita dengan tabah dan penuh kesabaran serta keikhlasan.

Penyebab turunnya iman keyakinan kita kepada Allah antara lain juga bisa disebabkan karena penurunan semangat dan gairah dalam beribadah. Dan hal seperti ini bisa dialami oleh siapa saja. Dalam kadar yang ringan, gejalanya ditandai dengan kemalasan dan kejenuhan dalam melakukan ibadah, merasa berat menjalankan ibadah dan selalu menunda-nunda ibadah. Kemudian ada rasa keengganan untuk berbuat kebaikan, yang terparah adalah bila tidak ada rasa bersalah dan penyesalan bila melewatkan suatu amal ibadah.

Jika tidak terdeteksi secara dini dan tidak ditanggulangi dengan segera, penurunan semangat dan gairah dalam ibadah ini akan menjadi semakin parah. Biasanya akan dibarengi dengan penurunan kualitas iman.  Dan bila tidak segera diatasi, dapat mengakibatkan seseorang berhenti menjalankan ibadah dan berhenti berbuat kebaikan dan yang terburuk bisa membuat seseorang condong pada kemaksiatan.

Berawal dari menurunnya semangat dan gairah dalam ibadah inilah yang kemudian bisa menjadikan turunnya secara dratis iman seseorang dan bahkan tanpa disadari bisa berakibat seseorang melakukan maksiat. Ini adalah suatu musibah besar yang sangat merugikan.

Jika dikaji lebih mendalam, ada beberapa hal yang menjadi penyebab menurunnya gairah dalam beribadah. Sebabnya adalah karena rendahnya kadar keikhlasan kita dalam ibadah, kita tidak sepenuhnya mengharap ridha Allah SWT dalam beribadah.  Karena hanya amal ibadah yang ikhlas lah yang diterima oleh Allah SWT. Dan setitik riya’ di hati akan menjadikan ibadah kita ternoda keikhlasannya.

Sebab lainnya adalah karena ada dari kita yang terlalu membebani diri dalam beribadah, sehingga merasa ibadah menjadi rutinitas yang terasa berat dan membosankan. Tapi jika ibadah kita dilandasi dengan mahabbah (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harap) kepada Allah, maka ibadah akan menjadi kebutuhan dan bukan merupakan beban yang berat untuk dilaksanakan.

Memperhatikan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh penurunan semangat dan gairah dalam beribadah. Ada beberapa tuntunan yang bisa diamalkan untuk mengatasinya, karena dalam melaksanakan aktivitas ibadah terkadang ada saat-saat dimana kita semangat untuk terus-menerus melakukannya, dan ada juga saat-saat dimana semangat kita melemah. Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Barangsiapa yang lemah semangatnya kemudian mengikuti sunnahku, maka sesungguhnya ia akan menang. Dan barangsiapa lemah semangatnya kemudian ia tidak mengikuti sunnahku, maka dia akan celaka.” (HR Ahmad).

Rasulullah SAW juga pernah ditanya tentang amal yang disukai oleh Allah SWT. Beliau menjawab : “Amal yang paling disukai oleh Allah SWT adalah amal yang dilakukan secara rutin walaupun sedikit.” (HR Bukhari & Muslim).

Berikut dua doa yang perlu diamalkan, untuk mengatasi penurunan semangat dan gairah dalam beribadah yang bisa mengakibatkan penurunan iman kita :

  1. Doa dari Al Qur’an : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS Ali Imran [3] : 8).
  2. Doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW: ” Wahai Dzat yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbuku atas agama-Mu. ” (HR Tirmidzi).

Perhatikan firman allah SWT berikut ini :”Dan beribadahlah untuk Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al Hijr [15] : 99). 

Istiqamah dalam beribadah hingga akhir hayat adalah suatu yang bisa diraih. Yang diperlukan adalah keteguhan iman, sehingga timbul ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala macam halangan, rintangan dan godaan yang menerpa setiap saat, sebagai ujian bagi orang beriman.

BEBERAPA CARA MENAIKKAN KADAR IMAN :

  1. Perbanyak membaca Al-Qur’an dan renungkan maknanya.
    Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS, Shaad [38] :29).  Perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini: ”Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.” (QS, Al-Israa’ [17]:82)
  2. Perbanyak zikir dalam setiap waktu dan kesempatan. Karena zikir dapat meraih ketenteraman hati seperti tertulis dalam firman-Nya : ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Rad [13] : 28). Dalam ayat ini disebutkan, dengan zikir (mengingat Allah) lah hati menjadi tenteram, ini sangat diperlukan apabila kita sedang mengalami ujian besar dan atau musibah seperti yang telah diuraikan diatas.
  3. Perbanyak istighfar. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa senantiasa membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan baginya dari tiap-tiap  kesulitan suatu jalan keluar, dan dari setiap kesusahan suatu jalan keluar, serta Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.” (HR. Muslim dan HR.Abu Daud dan Nasa’i).  Dari Al Aghor Al Muzani r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:  “Bahwasanya terkadang timbul perasaan yang kurang baik dalam hati dan aku membaca istighfar (mohon ampun) kepada Allah seratus kali dalam sehari”. (HR. Muslim).
  4. Bersihkan hati kita dari sifat-sifat buruk, selalu menjaga  kesucian hati. Raih  sabar dan tawakal, penuh takut dan harap kepada Allah. Jauhi sifat prasangka buruk, tamak, kikir dan sebagainya. Ini akan sangat membantu kita untuk bisa tabah, tegar dan sabar saat kita dihadapkan pada ujian atau musibah yang besar, sehingga kita bisa tetap kuat iman dan mampu menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, betapapun beratnya.

Untuk diketahui, bahwa kuat atau tidaknya kita menghadapi dan menerima segala ujian atau musibah dan atau segala ketentuan takdir Allah adalah, didasari dengan kuatnya iman kita.  Semakin kuat iman kita, maka akan semakin mudah dan ringan kita menerima dan menjalani segala ketentuan-Nya.

Tapi apabila iman kita lemah, maka kita akan mudah goyah dan bahkan terpuruk dalam penderitaan yang berkepanjangan dalam menghadapi atau menerima segala ketentuan takdirnya, khususnya yang berupa musibah atau kesulitan hidup.

Dengan kuatnya iman kita, kita akan menyadari bahwa apa yang sedang kita alami sekarang ini adalah memang yang harus terjadi dalam hidup kita, bahwa ini adalah episode yang memang harus kita jalani dalam hidup,  maka kita akan dapat lebih mudah menerimanya. Seberapa besarnya pun musibah menimpa kita, kalau kita kuat iman, Insya Allah kita akan kuat menjalaninya.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

http://dewiyana.cybermq.com

One response to this post.

  1. Posted by anin on 24 Oktober 2010 at 20:24

    Subhanallah.. terimakasih ulasanya, semoga Allah mengampuni saya dan memberi kekuatan agar selalu istiqomah di jalanNya, Amin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: