Islam Iman Dan Ihsan

Assalamu’alaikum, teman-teman semua, mohon maaf, bila saya agak terlambat menjawab komentar teman-teman, karena sedang ada kesibukan yang cukup padat, tapi InsyaAllah, semaksimal mungkin, akan saya usahakan menjawab semuanya, harap maklum, terima kasih (Dewi Yana)

———————————————————————————————–

Dienul Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islaman dianggap sah kecuali jika ada iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup lahir dan batin.

Pada saat Malaikat Jibril bertanya tentang konsep Iman, Islam dan Ihsan, Rasulullah Saw menjawab, ”Bahwa Iman ialah hendaklah Engkau mengimankan Allah, Malaikat Allah, Kitab kitab Allah, para Utusan Allah, Hari Qiyamat, dan mengimankan Taqdir, baik dan buruknya adalah ketentuan Allah. Islam ialah hendaklah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah, dan nabi Muhammad adalah UtusanNya, mendirikan Shalat, Menunaikan Zakat, berpuasa Ramadhan, dan berangkat Haji bila telah mampu. Sedangkan Ihsan yaitu hendaklah engkau beribadah kepada Allah seperti engkau melihatNYA, apabila tidak bisa demikian , maka sesungguhnya Allah melihat engkau”. (HR. Bukhari)

Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah swt. berfirman. “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS Al-Isra’: 7). Dan irfman Allah : “Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (QS. Al-Qashash: 77)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah Swt

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Swt.  Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah Swt. Rasulullah Saw pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.

Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril yang menyamar sebagai seorang manusia mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah Saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

“Engkau mengabdi kepada Allah, seakan-akan engkau melihat Dia. Kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah Dia pasti melihatmu.” (HR. Muslim)

Terjemahan hadis di atas merupakan potongan terjemahan hadis tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda datangnya hari kiamat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lengkapnya terjemahan hadis tersebut adalah sebagai berikut. ”Dari Umar ra, beliau berkata : Pada suatu hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah Saw, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian ia duduk di hadapan Nabi Saw, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, terangkanlah kepadaku tentang Islam.” Kemudian Rasulullah Saw menjawab, “Islam yaitu hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang hak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan haji ke rumah Allah jika engkau mampu mengerjakannya.” Orang itu berkata, “Engkau benar ” Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi, “Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman”  Rasulullah Saw menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk”  Orang tadi berkata, “Engkau benar”  Lalu orang itu bertanya lagi  “Lalu terangkanlah kepadaku tentang ihsan.” (Beliau) menjawab, “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun, jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat ” Beliau menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” Orang itu selanjutnya berkata, “Beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya” Beliau menjawab, “Apabila budak melahirkan tuannya dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.” Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu Nabi Saw bersabda, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu ?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu beliau bersabda, “Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim)

Ihsan diartikan sebagai penglihatan diri Allah Swt kepada hamba-Nya dan penglihatan diri hamba kepada Allah Swt, hal ini dapat kita contohkan seperti sebuah cermin, di mana kita dapat melihat diri kita melalui cermin tersebut. Orang yang berbuat baik (muhsin) adalah orang yang dapat melihat Allah Swt baik melalui zat (nanti di hari kiamat) maupun sifatNya, dan apabila tidak bisa melihatNya maka yakinlah Allah Swt melihatnya. Dengan demikian, muraqabah yaitu perasaan diri diawasi oleh Allah Swt dalam segala hal, merupakan hal penting dan utama untuk dilakukan karena muraqabah adalah merupakan ihsan itu sendiri

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental.  Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh Allah, minimal akan membuatnya dapat menunaikan semua ibadah dengan sungguh-sungguh dan baik.  Inilah maksud dari perkataan Rasulullah Saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri/suami, bekerja, meniatkan setiap apapun yang kita lakukan untuk mendapat ridha Allah. Oleh karena itulah Rasulullah Saw menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

Ihsan dijelaskan Allah Swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36 : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”  (QS. An-Nisaa’ 36)

Dalam bekerja, sebaiknya kita bekerja secara Ihsan, bekerja secara ihsan adalah bekerja dengan ikhlas, bekerja dengan mengharapkan pahala dan ridha dari Allah Swt.  Seorang yang bekerja secara ihsan akan melaksanakan pekerjaannya dengan sepenuh hati, baik ketika berada di halayak ramai maupun ketika berada sendirian sehingga dia boleh menghasilkan yang terbaik. Rasulullah Saw bersabda ” Sebaik-baik usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila dia mengerjakannya dengan tulus” (HR. Ahmad)

Rasulullah Saw bersabda” Sesungguhnya Allah mencintai seorang pekerja apabila bekerja secara ihsan” (Diriwayatkan Baihaqi dan Thabrani dari Kulaib bin Syihab al-Jurmi).  Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku “ihsan” (bekerja secara berkualitas) atas segala sesuatu (HR. Muslim).

Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang yang diperoleh dari hasil ibadahnya, maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.

Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut.  Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya.

Dewi Yana

https://jalandakwahbersama.wordpress.com

39 responses to this post.

  1. Posted by darahbiroe on 21 Mei 2010 at 12:43

    assalamualaikum
    yupz dderajat kita dimata allah sama
    yang membedakan hanyalah ketakwaaan dan keimanan kita

    Balas

  2. Untuk mencapai ihsan butuh kerja keras dan mujahadah melalui proses panjang dan kebiasaan .mari kita mulai sejak sekarang. Salam sehat dan salam kenal

    Balas

  3. Secara teori iman, islam, dan ihsan dapat dibedakan namun dari segi prakteknya tidak dapat dipisahkan. Satu dan lainnya saling mengisi, iman menyangkut aspek keyakinan dalam hati yaitu kepercayaan atau keyakinan, sedangkan islam artinya keselamatan, kesentosaan, patuh, dan tunduk dan ihsan artinya selalu berbuat baik karena merasa diperhatikan oleh Allah

    Balas

  4. Posted by aldy on 21 Mei 2010 at 19:16

    Assalamualaikum,
    Keimanan adalah sebuah keyakinan yang tidak terbantahkan, tidak dapat diukur dengan nalar manusiawi, kecuali nalar keimanan.

    OOT, kok jarang update ya mbak ? Apakabar mas dan sikecil ?
    oh ya, bukunya sampai sekarang belum diterima, nggak tahu deh nyasar kemana😀

    Balas

  5. Semoga Allah SWT menjadikandiriku seorang yang Ihsan, amin…
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    Balas

  6. LLLLLLL

    Balas

  7. Semoga, saya bisa merasakan nikmat yang teramat itu
    Iman, Islam dan bisa ihsan

    Lama gak bersua ma teteh🙂

    Balas

  8. nice post mbak, semoga kita termasuk orang yg beruntung

    salam kenal ya

    Balas

  9. Posted by Ita on 23 Mei 2010 at 06:22

    Zubhanallah…
    Salm kenal, waah… Seneng membca artikel yg ad di blog ini, slalu memberi pencerahan,..

    O yah sy mau tanya untuk bukux yg berjudul ”Dasyatnya Zikir” ap sudh ad jg di daerah manokwari-papua ??

    Wassalam..

    Balas

  10. Posted by yani on 23 Mei 2010 at 14:31

    wow, jika semua muslim dan muslimah di Indonesia ini bisa ikhsan, pasti semua masalah yg terjadi sekarang selesai dan Indonesia sejahtera serta maju. tak ada korupsi, tak ada mafia. InsyaAllah semua pejabat amanah.

    Balas

  11. ooh kirain ihsan itu nama orang made in indonesia
    di ambil dari AL Qur’an juga ternyata
    hebat banget🙂

    makasih mbak Dewi Yana… atas info menariknya😀

    Balas

  12. ciluuuuukkk……….baaaaaaaa

    Balas

  13. kunjungan siang utk bersilaturrahmi … lama tak singgah kesini..
    apakabar mbak Dewi dan keluarga?

    salam, ^_^

    Balas

  14. artikel yg sangat bagus sekali mbak..makin byk pengetahuan ttg religi setiap berkunjung kesini…
    trimakasih

    Balas

  15. Buahnya muslim harusnya Iman
    Buahnya Iman harusnya Ihsan dan amalan
    Buahnya amalan adalah Jihad fii sabilillah. Betul ya ukhty?

    Balas

  16. Posted by dira on 26 Mei 2010 at 16:46

    Asiik… pertama…
    Ihsan itu yang berat ya mbak, jika kita bisa melakukan ihsan, sempurnalah agama kita. Makasih atas nasihatnya yang baik ini mbak..

    Balas

  17. moga kita semua bisa menjadi manusia yang berakhlak mulia..
    karena itulah puncak kualitas setiap insan..

    Balas

  18. setelah lama tak berkunjung selalu ada hikmah dan wawasan islam yang memberi inspirasi di sini mba dewi, salam hangat selalu

    Balas

  19. Komplit banget. .. ustadzah. . . 🙂

    smoga ALLAH meridhoi usaha antum . 🙂

    Balas

  20. halo sobat salam kenal

    Balas

  21. Assalamu;alaikum,
    Tepat sekali Bu, ihsan merupakan puncak dari keberagamaan kita yang dimanifestasikan dalam bentuk ibadah, muamalah dan akhlak. Setiap perbuatan kita tidak tergolong ihsan bila tidak didasari iman. Tidak bisa menjadi seorang Muslim tanpa iman. Dan iman harus direalisasikan dalam bentuk ihsan.

    Terima kasih.
    Salam.

    Balas

  22. semoga bisa dan terus berusaha untuk menjadi ihsan

    Balas

  23. mantap luar biasa banget ni blog…langsung pasang link blog ini di bloglist di blog saya…,biar tau update artikel terbaru…tukeran link ya..untuk sarana silaturahim….saluut banget blog ni,,,tenang hijau…salut sekali lagi

    Balas

  24. Alhamdulillah, jazakallah atas uraiannya mbak, jarang datng kesini neh….pa khabar mabak ?

    Sungguh nikmat rasanya jika keihsanan kita selalu ON,rasanya noproblem dalam hidup ini

    Balas

  25. artikel yg mencerahkan..trimakasih mbak Dewi

    Balas

  26. kunjungan silaturrahmi mbak Dewi…
    semoga selalu sehat untuk mbak Dewi dan keluarga amin…

    salam, ^_^
    [assalamu’alaikum]

    Balas

  27. 3 hal yang tak terpisahkan..

    Ihsan semoga bisaa,amin

    Balas

  28. artikel nya melengkapi dari khutbah jum’at yang sedang dengar bbrp waktu lalu tentang islam, iman dan ihsan….

    Balas

  29. Semoga kita semua bisa mencapai tingkatan ihsan sebagai puncak prestasi dalam ibadah seperti yang mbak sebutkan…
    Amiin ya robbal alaminn…

    Balas

  30. salam

    Balas

  31. antara iman ihsan n islam mmg g bisa di pisahkan

    Balas

  32. baca komment yang lain pada bagus bagus, jadi malu kasih komment, sukses aja deh

    Balas

  33. Subhanallah, Indahnya Islam😀

    Balas

  34. Posted by hiday on 26 Oktober 2010 at 16:41

    tiada kata yang terucap….. yang termanis dari ana… selain ” sangat amat tersentuh hati ana membaca tulisan mbak

    Balas

  35. Posted by lina on 27 Oktober 2010 at 15:43

    jazakallaoh khoir,artikel yg bagus,semoha apayang dilakukan kita selalu mendapatka Ridho Allah SWt
    Amin Ya robal Alamin….

    Balas

  36. maksih,..

    Balas

  37. Semoga kita semua bisa mencapai tingkatan ihsan sebagai puncak prestasi dalam ibadah seperti yang disebutkan…
    Amiin ya robbal alaminn…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: