Posts Tagged ‘HIKMAH’

KEUTAMAAN MEMBACA ISMULLAAHIL A’ZHAM

Ma’qil bin Yassar meriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda: “Siapa saja yang membaca pada pagi hari a’uudzubillaahis samii’il ‘aliim minasy syaithaanirrajiim sebanyak 3X kemudian membaca 3 ayat terakhir dari surah al-Hasyr niscaya Allah akan kirimkan 70.000 malaikat yang akan selalu mendo’akan si pembaca hingga sore hari. Seandainya ia meninggal dunia pada hari itu maka ia meninggal dalam keadaan syahid. Demikian pula bagi orang yang membacanya pada sore hari”. (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad)

 A’uudzu billaahis samii’il ‘aliim  minasysyaithaanir rajiim 3X. Huwallaahul ladzii laa ilaaha illaa huwa ‘aalimul ghaibi wasysyahaadati     huwarrahmaanur rahiim. Huwallaahul ladzii laa ilaaha illaa huwal malikul qudduusus salaamul mu`minul muhaiminul ‘aziizul jabbaarul mutakabbiru subhaanallaahi ‘ammaa yusyrikuun. Huwallaahul khaaliqul baari  ul mushawwiru  lahul  asmaa ul husna yusabbihu lahu maafis samawaati wal ardhi wahuwal ‘aziizul hakiim   

   Artinya:

Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha

 Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk.  Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

 

GHIBAH

Allah SWT telah menerangkan dengan sangat jelasnya, bahwa sangat tercelanya ghibah, seperti tertulis dalam firman-Nya di Al Quran, surah Al Hujurat (49) ayat 12 :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

 

Makna Ghibah

1. Ghibah menurut bahasa ialah:  membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.

2. Secara definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi saw pada suatu hari bersabda:

Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi saw: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Bentuk-Bentuk Serta Jenis-Jenis Ghibah

1. Aib dalam agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan yang najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya,  dia suka mengghibah, dan sebagainya.

2. Aib Fisik. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.

3. Aib duniawi: seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.
4.Aib karakter. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.

5. Aib pakaian. Apabila kita membicarakan tentang bajunya yang kebesaran, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kotor, dan sebagainya.

6. Prasangka ruruk tanpa alasan. merupakan ghibah hati.

7. Apabila kita mendengarkan ghibah. tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan orang-orang yang sedang ghibah, maka kita sudsah termasuk berghibah.

 

  1. Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda : ”Orang yang menggunjing orang lain seperti orang yang memasang ketapel. Ia membidik kekanan dan ke kiri. Demikianlah ia melemparkan kebaikan-kebaikannya” Beliau juga bersabda : ”orang yang menggunjing saudaranya berarti menginginkan kejelekannya. Pada hari kiamat, Allah menghentikan langkahnya diatas jembatan jahanam, hingga keluar apa yang pernah dikatakannya.” Selanjutnya sabda beliau : ”Ghibah itu adalah jika engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang hal-hal yang tidak disukainya, baik tentang kekurangan pada tubuhnya, nasabnya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, maupun dunianya, hingga pakaiannya, jubahnya, dan kendaraannya.”    Dalam hadis lain Rasullullah saw bersabda : ”Barang siapa yang menggunjing seorang ulama, pada hari kiamat akan dituliskan pada wajahnya, :”Inilah orang yang berputus asa dari rahmat Allah”  (mengutip dari Imam a-Ghaali, Menyingkap Hati menghampiri Ilahi).

 

Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini ! (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya

Sesama muslim (HR. Muslim 2564)

 

Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450

 

Jadi bila masih ada dari kita yang kadang masih suka menggunjing, maka sadarlah segera, karena ghibah merupakan dosa besar yang hanya akan diampuni, setelah orang yang kita gunjing memaafkan kita. Dan biasanya, kebanyakan dari kita, sangat malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan kita,  pada orang yang kita gunjing..

 

Untuk selalu mendapatkan materi dakwah terbaru langsung ke alamat email anda, silahkan bergabung di : Milis Jalan Dakwah yahoogroups

 

DEWI YANA

http://dewiyana.cybermq.com

ISTIDRAJ

Apabila kita menemukan ada orang yang selalu melakukan perbuatan dosa atau maksiat, tapi hidupnya tetap baik-baik saja, rezeki tetap lancar, urusan tetap mudah. Segala aib dan maksiat yang dilakukan tetap tersembunyi, hingga ia masih terus meraih kesuksesan, masih tetap mendapakan kepercayaan dari orang-orang dan atau tetap mendapatkan ketenaran. Sebenarnya orang yang seperti ini, adalah orang yang benar-benar berada dalam kesulitan yang besar dan dalam keadaan yang sangat merugi, karena semua maksiat dan dosa yang dilakukannya, telah membuat hatinya mengeras dan membuat ia menjadi hamba yang lupa bertobat, lupa memohon ampunan kepada Allah dan menganggap remeh dosa-dosanya. Padahal seharusnya orang ini segera bertobat, tobat yang sebenar-benarnya tobat. Karena bisa jadi, semua kemudahan, rezeki yang tetap Allah karuniakan kepadanya, adalah merupakan istidraj, yakni hukuman yang ditangguhkan dan  orang tersebut dilupakan untuk bertobat.

  1. Karena istidraj adalah : mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa, tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat dan dilupakan untuk minta ampunan, kemudian dibinasakan.

Seperti dalam firman-Nya di surah Al An ’aam, ayat 44 :   “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu, mereka terdiam, berputus asa.”

Rasullulah saw. bersabda :”Apabila kamu melihat bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada hamba-Nya yang selalu berbuat maksiat,
ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah SWT.”   (Diriwayatkan oleh At Tabrani, Ahmat dan Al Baihaqi)

 

Namun sebagai manusia biasa, kita hanya bisa sebatas mengajaknya kembali ke jalan Allah serta mendoakan orang tersebut, agar Allah SWT membukakan hatinya, memberikan hidayah padanya untuk bertobat kepada Allah SWT. Karena.hanya Allah lah yang dapat membukakan hati dan pikirannya untuk bertobat, karena hanya Allah lah yang bisa menyadarkannya dari kesalahan dan dosa serta maksiat yang selalu dilakukannya. Dan karena hanya Allah SWT lah yang bisa mengampuni segala dosa-dosa. 

 

DEWI  YANA

Jalan_dakwah@yahoogroups.com

WAKTU

Kebanyakan dari kita sering kali tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Bahkan kebanyakan dari kita sering kali menggunakan waktu luang kita untuk ha-hal yang tidak bermanfaat. Padahal waktu adalah nikmat karunia Allah yang sangat berharga, yang dengannya, kita bisa banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Tapi sayangnya banyak dari kita yang sering mensia-siakan waktu yang di anugerahi Allah SWT untuk kesenangan dunia saja dengan melaluinya dan mengisinya tanpa berbuat sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi akhirat kita. 

Nabi Muhammad saw bersabda : ”Ada dua kenikmatan yang seringkali manusia lalai memanfaatkannya : kesehatan dan senggangnya waktu” (HR Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Maajah dari Ibnu Abbas r.a)

Waktu akan menyebabkan malapetaka bagi kita, apabila kita mensia-siakannya dengan melakukan banyak perbuatan dosa dan kelalaian serta bermalas-malasan. Dan ada dari kita yang masih sering bermalas-malasan dalam melakukan ibadah atau melaksanakan amal kebaikan. serta hanya mementingkan urusan dunia saja, mengejar dunia tanpa henti, seakan-akan tidak pernah cukup harta yang sudah dimiliki dan masih ingin terus menambahnya lagi.

Padahal dengan bermalas-malasan/menunda-nunda amal ibadah, mengejar dunia dan melupakan akhirat, hingga membuat waktu terlewat begitu saja tanpa malakukan sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi akhirat kita, adalah suatu kesalahan fatal, karena waktu yang telah lewat, tidak akan pernah bisa kembali lagi. Dan kita tidak pernah tahu kapan ajal datang menjemput, akan sangat meruginya kita, apabila kita masih terus saja bermalas-malasan dan berada dalam kelalaian kemudian kematian mendatangi kita, sementara belum ada atau masih sedikit sekali amal kebaikan/amal ibadah yang kita lakukan. Sebaiknya kita persiapkan dulu bekal kita, kita kirimkan terlebih dahulu sebanyak-banyaknya amal kebaikan kita ke liang kubur kita, sebelum kita mendatanginya nanti. Agar saat kita tiba disana, sudah banyak hal-hal menyenangkan yang akan menemani kita hingga sampai kita dibangkitkan nanti.

Sampai kapankah kelengahan dan kelalaian ini berakhir?

Apakah kamu ingin disaat kamu dalam keadaan lupa malaikat maut datang   menjemputmu? Pagi dan sore kamu pergi memburu dunia, untuk apa? Kamu lupa dibelakangmu ada penyetir gila yang menggiringmu ketempat yang hina.  Ingatlah, semua tenaga dan kemampuan yang digunakan untuk ketaatan, jelas lebih berguna bagi orang-orang yang sebentar lagi akan masuk liang kubur.  Perhatikan amalmu, shalatmu, dan kebaikanmu. 

Semua itulah yang akan turut menyertaimu menuju papan pemandian. Akan turut bersamamu dalam keranda kematian, turut menyertaimu disaat kamu dishalatkan.  Serta menemanimu, ketika kedalam liang lahat tempat kamu dimasukkan.

Hingga apabila terompet pembangkit dan kacaunya hari penggiringan mengejutkanmu dan bapakmu, ibumu, serta saudara-saudarimu meninggalkanmu, amal kebaikan itu akan terus setia menyertaimu kemanapun langkahmu menuju.  Didalam kubur, ia menjadi penghibur dalam kegalauan, memberi ketenangan dalam ketakutan, memancarkan pelita dalam kegelapan.

Dihari kiamat, amal kebaikanmu, akan memberimu naungan dibawah naungan Arsy Tuhan. Meringankan bebanmu disaat kamu berdiri menunggu perhitungan.

Wahai saudaraku, mengapa rezeki yang kamu terima menyebabkanmu lupa Pembaginya? Begitu juga kenikmatan yang kamu rasa, mengapa menyebabkan kamu lupa akan Pemberinya?  Kamu lebih mengutamakan yang dicipta ketimbang pencipta.

Apabila kepastian itu mulai datang, disaat kamu dipanggil untuk pulang.  Kamu akan merasa, sungguh tidak bermanfaat harta yang kamu kumpulkan. Semua yang hadir sibuk dalam kebingungan, para dokter mulai lepas tangan, air mata pengunjung mulai bercucuran. Ahli waris menunggu pengumuman kematian.

Hingga disaat rohmu mulai punah, dan suaramu mulai melemah. Apakah harta-harta halal yang kamu peroleh bermanfaat untukmu? Apakah harta-harta haram yang menyelamatkanmu? Atau putra-putri yang kamu banggakan akan membelamu? Atau mungkin istri-suami yang kamu cintai, taman yang kamu rawat, harta dagang yang kamu takut rugi, atau rumah gedung yang menjadi kebanggaanmu, yang akan menyelamatkanmu?  Sama sekali tidak.

Tidak akan ada yang memberi manfaat kepadamu, selain kebaikan yang engkau kerjakan, hubungan silaturahim yang kamu jalin, dua rakaat ditengah malam yang kamu lakukan, tetesan airmata keimanan dan juga sedekah yang kamu berikan. Sudah saatnya, bagi siapapun yang masih terlelap dari tidurnya, dan masih berada dalam kelalaiannya untuk segera bangun dan tersadar, selagi masih ada waktu.

Sesalilah kelalaianmu selama ini, dan berjuanglah sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Jangan sampai kemalasan atau keinginan untuk santai, membuatmu mensia-siakan waktu hingga telewat begitu saja tanpa aktifitas yang mendekatkanmu pada Allah SWT.  Manfaatkanlah waktu yang masih tersisa dengan baik dengan melakukan aktifitas yang diridhai allah SWT.

 

 

Bahan Tulisan : Ketika Allah Berbahagia, Dr. Khalid Abu Syadi

 

Dewi Yana

Jalan_dakwah@yahoogroups.com

BERSYUKUR

KIta harus bisa jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Jadilah Ahli Syukur, niscahya hidup kita selalu bahagia, karena bersyukur berarti mempertahankan nikmat. Pengertian syukur adalah : merasa dalam hati, menyebutnya dengan lidah dan mengerjakannya dengan anggota badan.

Maksudnya adalah, merasa dalam hati, misalnya mensyukuri semua nikmat hidup, nikmat rezeki, kepandaian dan seluruh alam semesta serta segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya yang Allah karuniakan dan sediakan untuk seluruh hamba-Nya.. Mengucapkan dengan lidah, bersukur, Alhamdulillah dengan sepenuh hati.

Dan maksdnya mengerjakan dengan anggota badan adalah, kita mensyukuri segala nikmat Allah untuk kita, sejak mula awal penciptaan kita, dimana Allah SWT selalu mengurus kita, memenuhi segala hajat kebutuhan kita, bahkan disaat kita belum mampu menyadari apa-apa saja yang menjadi hajat kebutuhan kita, Allah SWT telah melengkapinya. Ini semua wajib kita syukuri, dengan menjalankan semua perintah dan larangan-Nya dengan sebaik-baiknya, dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih, tanpa merasa keberatan dan tidak bermalas-malasan.

Allah SWT sangat Maha Pengasih dan Penyayang pada kita semua, kita diperintah untuk mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepada kita, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu sangat tidak mungkin.  Allah memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan Kita diharuskan mensyukuri nikmat dari Allah menurut kadar kelemahan dan kemampuan Kita.

Ketahuilah : Tiada Allah memberikan suatu nikmat pada hamba-Nya, kemudian hamba itu mengucap Alhamdulillah melainkan nilai pujian Alhamdulillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Nabi Dawud as berkata : Tuhanku, anak Adam ini telah Engkau beri pada tiap rambut ada nikmat diatas dan dibawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepada-Mu. 

Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu cukup bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu dari Aku. (mengutip buku Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari).

 Ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan kita mensyukuri nikmat Allah dapat dilihat di surah  : 2:152, 2:172, 2:239, 3:43, 3:123, 3:144, 3:145, 5:6, 5:89, 7:58, 7:144, 7:189, 14:7, 16:121, 27:40, 28:17, 28:73, 29:17, 31:12, 34:13, 39:66

Sebaiknya kita jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah diri kita agar tidak menjadi hamba Allah yang tidak bisa mensyukuri nikmat dari Allah.

Dan bila ada dari kita yang masih merasa kurang puas dengan nikmat rezeki yang sedikit yang telah dikaruniakan Allah untuk kita, dan sering mengeluh, seperti tidak cukup dan sebagainya, maka sadarlah segera, karena  Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak. Dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, berarti tidak syukur kepada Allah” (Hadits Nabi saw dikutip dari Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari)