Mengatasi Kegundahan Hati

Ada beberapa teman yang menghubungi dan curhat pada saya, seputar masalah ujian yang menimpanya, dan dari mereka yang menghubungi saya via email atau sms, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan hampir sama, intinya tentang kegundahan hati mereka dalam menjalani hidup

Saya membuat tulisan ini, antara lain berdasar pada curhat teman-teman ke saya. Tulisan ini bukan untuk membeberkan kepercayan mereka kepada saya, karena saya pun tidak akan mengungkap nama dan permasalahan mereka. Tulisan ini saya buat untuk semua teman-teman, baik yang pernah curhat kepada saya ataupun tidak, dan untuk semua teman-teman dimanapun berada, barangkali ada yang mengalami/mempunyai pertanyaan yang sama.

Sebenarnya, tenang atau tidaknya, dan baik atau buruknya hidup kita, tergantung dari hati kita, seperti yang diungkapkan Rasulullah saw : “Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya; jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya posisi hati dalam tubuh manusia, hati tidak hanya sekerat daging, tetapi juga penentu aqidah, penentu budi pekerti dan penentu keputusan terbesar seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits Arbain Nawawiyah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, yang artinya “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” (H.R Imam Ahmad bin Hambal dan Iman Ad-Darani)

Kegundahan hati yang disebabkan oleh problematika hidup yang penuh dengan konflik, persoalan-persoalan, keinganan-keinginan duniawi kita dan segala macam tantangan, bisa menyebabkan hati kehilangan cahaya-Nya sehingga perlu segera ditemukan terapinya. Allah yang Maha Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah memberikan solusi-solusi kegundahan hati dengan obat mujarab yaitu ayat-ayat dalam Al-Quran. Salah satu firman-Nya yang artinya “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S Ibrahim: 1).

Kebanyakan teman-teman yang curhat bertanya, kenapa saya diuji seperti ini? Sebenarnya jawaban pertanyaan ini sudah ada di Al Quran di Surah Al-Ankabut ayat : 2-3 : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) hanya dengan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Surah Al Ankabut {29} : 2-3).

Ujian bisa jadi sebagai sarana untuk meningkatkan iman kita atau sebagai penggugur dosa-dosa kita. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.

Kadang ada dari teman-teman mengeluh, bahwa mereka benar-benar merasa sudah tidak sanggup lagi menerima ujian-Nya yang terasa begitu berat dan menyakitkan, untuk teman-teman yang mengeluh dan merasa tidak sanggup menerima ujian-Nya yang terasa berat dan menyakitkan, cobalah buka Al Quran, dan temukan jawabannya di surah Al Baqarah ayat 286 sebagai berikut : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al Baqarah {2} 286). Ini adalah jaminan dari Allah, dan pasti benarnya. Jadi bila ada dari kita yang masih merasa tidak kuat menerima ujian atau ketetapan-Nya yang terasa berat dan menyakitkan kita, maka berati kita tidak percaya dengan firman Allah dan secara tidak langsung kita telah menuduh Allah sebagai pembohong. Astaghfirullah…

Dan bila teman-teman masih bingung juga harus bagaimana menghadapi persoalan hidup yang berat tersebut, maka coba renungkan firman Allah di surah Al Baqarah ayat 45-46 sebagai berikut : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali pada-Nya. ” (QS. Al Baqarah {2} : 45-46).

Ada juga dari teman-teman yang curhat dan merasa tidak puas dengan takdir Allah, karena merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk meraih keinginan tapi tidak tercapai, maka temukan jawabannya di surah Al-Baqarah ayat 216 : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah {2} : 216). Sebaiknya kita tetap selalu berprasangka baik terhadap Allah Swt Yang Maha mengetahui apa yang paling baik untuk semua hamba-Nya. Percayalah, Allah lebih mengetahui apa yang paling baik, paling cocok dan paling tepat untuk kita.

Teman-teman, memang kadang tidak gampang menerima kenyataan, khususnya yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau yang kita rasakan berat dan pahit. Cuma kalau kita pikir-pikir, diterima atau tidak, takdir dan ketentuan Allah tetap berlaku. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima dan menghadapi kenyataan serta berserah diri kepada Allah dan mengembalikan semua kejadian kepada Penguasa setiap kejadian atau dengan kata lain bertawakkal kepada Allah Swt. Ingatlah, bahwa Allah tidak akan pernah membebani kita melebihi kemampuan kita.

Dan kita harus yakin bahwa Allah tidak pernah menyulitkan hamba-Nya dan tidak pernah membuat Hamba-Nya menderita, pasti ada maksud lain yang ingin Dia sampaikan dibalik ujian yang diberikan dan pasti ada hikmah yang tersembunyi yang kadang butuh waktu bagi kita untuk memahaminya. Dan kita harus yakin dengan seyakin-yakinnya, Allah Swt yang menciptakan kita, pasti sangat tahu keadaan kita dengan sangat rinci, jadi tidak akan pernah ada dalam kehidupan kita, beban persoalan yang over dosis. Kita pasti sanggup menerima semua ujian yang diberikan-Nya, asalkan kita kuat iman dan sabar.

Sebenarnya yang paling mendasar yang kita perlukan hanyalah kemampuan kita untuk menenangkan diri disertai dengan Istighfar dan tawakal karena kalau kita membiarkan kegalauan hati dan pikiran menguasai kita, maka hanya stres yang akan kita dapatkan.

Dewi Yana
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
http://dakwahdewi.herfia.com

Shalat Sunnah Rawatib

Assalamu’alaikum,
Teman-teman, saya mohon maaf, bila agak lambat menjawab komentar, karena sedang ada sedikit kesibukan, tapi akan saya usahakan untuk tetap menjawab dengan mengunjungi Blog teman-teman, hanya saja mohon maaf, bila agak lebih lama dari biasanya, terima kasih (Dewi Yana)

Shalat sunnah rawatib, yang dimaksud dengan shalat sunnah rawatib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah Saw atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib (Shahîh Fiqhis-Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Mesir, tanpa cetakan dan tahun {1/372} )

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb ‘Azza wa jalla berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu’ (shalat sunnah)?” Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian” (HR At-Tirmidzi No. 413 dan Ibnu Majah No. 1425. Dishahihkan Al-Albani dalam shahih Al-Jami Ash-Shaghir No. 2020)

Dari hadits tersebut, maka jelaslah betapa shalat sunnah rawatib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan shalat wajib kita. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Dengan mengetahui kedua hadits tersebut diatas, maka tidak inginkah kita mempunyai tabungan shalat sunnah, yang bisa melengkapi kekurangan shalat fardhu kita? Apalagi setelah kita mengetahui, bahwa kelak, yang paling pertama di hisab dari kita, adalah shalat kita? Tidak takutkah kita, apabila ternyata kita tidak punya tabungan shalat sunnah, sedangkan shalat fardhu kita juga banyak kekurangannya? Hal ini hanya kita, yang bisa menjawabnya dengan jujur, karena hanya diri kita sendiri yang tahu, bagaimana shalat kita selama ini. Dan bila ternyata kita temukan bahwa shalat fardhu kita masih banyak bolongnya, shalat sunnah kita pun masih sangat sedikit sekali, maka segeralah perbaiki, mumpung kita masih hidup di dunia ini, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua.

Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara umum ialah:

1. “Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka’at shalat sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga (HR Muslim)

2. “Ummu Habibah berkata, Rasulullah Saw bersabda : ”Barang siapa yang shalat dua belas raka’at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga; empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dua raka’at setalah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya`, dan dua raka’at sebelum shalat Subuh.” Dalam riwayat lain dengan lafazh : “Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka’at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga” (HR An Nasa’i No. 1804)

3. Riwayat ini menunjukkan sunnahnya dibiasakan secara rutin agar kita mengerjakan shalat dua belas raka’at tersebut setiap hari. Sehingga, siapapun yang membiasakan diri melakukan sunnah-sunnah Rawatib ini, ia termasuk dalam keutamaan tersebut. Dan ini dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah Saw , sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu ‘Umar berikut ini : “Aku hafal dari Nabi Saw sepuluh raka’at: dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at setelah Maghrib, dua raka’at setelah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi Saw. Hafshah menceritakan kepadaku, bila muadzin beradzan dan terbit fajar, beliau Saw shalat dua raka’at.” (HR Al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: ar-Rak’atain Qablal-Zhuhur (no. 1180), dan Muslim, kitab Shalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Ratibah (no. 729).
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat tambahan lafazh.)

4. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda “Barang siapa yang menjaga empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka.” (HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat (no. 428), Ibnu Majah, kitab ash-Shalat (no. 428), Abu Dawud, kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba’ Qablal-Zhuhri wa Ba’daha (no. 1269) dan Ibnu Majah, kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Mâ Jâ-a fiman Shalla Qablal-Zhuhri `Arba’an wa Ba’daha `Arba’an (no. 1160). Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah (1/191).

Lakukanlah juga shalat sunnah lainnya, seperti Tahajut, Taubat Dhuha dan Witir, serta lakukan juga puasa sunnah. Teman-teman, mari kita isi malam-malam yang masih tersisa dari usia kita yang sekarang ini untuk mengingat Allah dengan menjalankan shalat sunnah tahajud dan shalat sunnah yang lain di sepertiga malam terakhir. Ingatlah bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan di akhiratlah yang kekal. Karenanya, kita perlu mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Lakukan segala amalan wajib dan sunnah dengan penuh kesungguhan. Bila kita sungguh-sungguh melakukannya dengan kesungguhan hati, InsyaAlllah, Allah akan membantu kita dalam melaksanakannya, memberikan kita semangat, keringanan dan kenikmatan dalam menjalankannya.

Dewi Yana

Teman-teman yang mendapatkan buku gratis

Assalamu’alaikum,

BAGI TEMAN-TEMAN YANG BERDOMISILI DI JABODETABEK DAN SEKITARNYA,  yang ingin membeli buku CUKUPLAH ALLAH,  dapat membelinya di Pameran buku :  INDONESIA BOOK FAIR, di JCC  stand ZIKRUL HAKIM yang berlansung mulai hari ini Rabu 04 November 2009 S/d Minggu 08 Nvember 2009,  dengan mendapatkan potongan diskon 20 %.

InsyaAllah, mulai minggu depan, buku ke tiga saya tersebut, sudah tersedia diseluruh Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung. Mohon Maaf atas keterlambatan ini.

Teman-teman semua, bersama ini saya ingin memberitahukan kepada teman-teman, 5 (lima) nama yang keluar sebagai orang yang mendapatkan buku ketiga saya,  CUKUPLAH ALLAH secara gratis, adalah :

  1. Dangstars
  2. Aldy (indo hijau)
  3. dedekusn
  4. Kopral Cepot
  5. Cucu Haris (Achoey)

Untuk ke lima nama tersebut diatas, mohon agar memberikan Nama Lengkap (nama sebenarnya, bukan nama blog) dan alamat lengkap, beserta kode pos ke alamat email saya : dakwahdewi@yahoo.com

InsyaAllah, buku CUKUPLAH ALLAH akan saya kirimkan ke alamat teman-teman dengan menggunakan jasa pos, kilat khusus, sekaligus secara bersamaan, apabila ke lima orang teman-teman sudah memberikan alamatnya ke saya.  Dan apabila ke lima orang yang saya kirimkan buku, sudah menerimanya, mohon konfirmasikan ke saya, melalui kolom komentar di blog Jalan Dakwah Bersama ini.

Untuk teman-teman yang namanya belum terpilih, saya mohon maaf, bila masih ingin memilikinya, bisa membelinya di Toko Buku Gramedia atau bila di tempat tinggal teman-teman tidak ada toko buku Gramedia, dapat membelinya di kantor cabang Zikrul hakim di beberapa kota di Indonesia. (Alamat kantor-kantor cabang Penerbit Zikrul Hakim, bisa dilihat pada postingan : Telah Terbit buku saya).

Demikian pemberitahuan saya, terima kasih atas segala perhatian dan dukungan teman-teman semua.

Bersama ini, saya juga  saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Mas Deny Pembuat Theme WordPress, herfia.com   yang telah sangat baik hati, memberikan saya blog gratis. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Mas Deny dengan kebaikan yang berlipat ganda, amin.

Teman-teman, tolong kunjungi blog baru saya ya,

http://dakwahdewi.herfia.com

Demikian pemberitahuan saya, terima kasih atas segala perhatian dan dukungan teman-teman semua. Teman-teman, tolong kunjungi blog baru saya tersebut ya…

Dewi Yana

ALLAH SWT MAHA PENGAMPUN

Pernahkah teman-teman merasa bersalah terhadap Allah Swt karena telah tidak tabah atau tidak lulus dengan ujian yang diberikan-Nya? Atau pernahkah teman-teman merasa bersalah kepada Allah Swt karena telah berbuat suatu kesalahan atau dosa? Yang mana semua kesalahan dan dosa tersebut menyebabkan hati kita jadi tidak tenang dan pikiran kita sepertinya tertutup. Dan yang sangat menyedihkan adalah, dimana kita jadi tidak bisa lagi merasakan indah dan bahagianya dekat dengan Allah.  Kemudian kita akan merasa cemas dan takut, kalau-kalau Allah Swt mencabut kenikmatan dekat dengan-Nya dan mencabut cinta dalam hati kita pada-Nya?.

Bagi yang pernah mengalaminya, segeralah bertaubat dengan sungguh-sungguh taubat. Mengakui dengan jujur dan menyesal betapa kita telah menzalimi diri kita dengan semua kesalahan yang kita lakukan.  Bila kita melakukan hal tersebut, InsyaAllah dalam shalat kita, Allah Swt yang Maha Pengampun, akan memberikan kita jawaban yang menenangkan hati kita.

Dimana secara tiba-tiba dalam shalat taubat dan atau tahajut yang kita lakukan, saat kita memohon ampunan-Nya, akan terpikir oleh kita sebuah firman-Nya, yang sungguh seperti jawaban atas permohonan ampunan yang kita mohonkan  pada-Nya, dimana sebelumnya ayat tersebut tidak pernah terlintas dalam benak kita, tiba-tiba kita ingat akan ayat tersebut dan bisa menenangkan hati kita, ayatnya sebagai berikut : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar ayat 53).

Kita akan temukan betapa Allah Swt Maha Pengampun dan Maha Penyayang, seperti yang banyak tertulis dalam firman-Nya, di beberapa surah  :

  1.  “…..karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud : 61)
  2. “…….Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Muzzammil : 20)
    ”…….Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nuur : 62)
  3. (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.  An Nisaa’ :96)

Kita sering kali melakukan kesalahan dan dosa dalam hidup kita, baik itu kesalahan/dosa kecil atau besar.  Seandainya tidak ada rahmat Kemurahan Karunia dan Ampunan dari Allah, tentunya tidak akan ada seorang manusiapun yang selamat dari dosa.

Beruntunglah kita, karena ampunan, rahmat dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya teramat sangat luas dan tidak terbatas. Saya ingat membaca di Al Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, Yahya bin Mu’aadz ra berkata : “Jika Allah menggunakan keadilan-Nya, niscahya tidak berarti segala amal kebaikan dan bila Allah menghadapi kita dengan kurnia-nya, maka tidak ada artinya segala dosa.”

Allah Swt Maha Pengampun, seberapa banyakpun dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan, Allah Swt selalu berkenan mengampuni kita dan Allah Swt selalu menunggu kita untuk kembali kepada-Nya dan Allah Swt sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : “Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Dan jika ia mendatangiku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari”. (HR.Muslim)

Dengan kita menyadari dan menyesali kesalahan yang sudah kita perbuat, kemudian kita sungguh-sungguh bertaubat dan berusaha memperbaiki kesalahan kita, maka Allah dengan Kemurahan dan Keluasaan Kasih Sayang-Nya, akan membantu kita, menutupi kekurangan kita dengan karunia-Nya.  Jadi bagi siapa saja yang telah melakukan perbuatan dosa, jangan bekecil hati, SEGERALAH BERTAUBAT DENGAN TAUBAT YANG SEBENAR-BENARNYA  jangan putus asa dari rahmat ampunan Allah. Ingatlah, bahwa betapa Luas dan Tidak Terbatasnya Rahmat Ampunan Allah Swt untuk kita semua.

Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

Telah Terbit Buku CUKUPLAH ALLAH

Cukuplah-Allah

Telah Terbit buku ke tiga saya CUKUPLAH ALLAH dengan kata pengantar dari Ustadz Jefri Al Buchori (Uje) Penerbit :  Zikrul Hakim Tebal 160 Halaman, ukuran buku 14 X 20.5  Edisi : Soft Cover.  Harga : Rp 26.000,-  Tersedia di Toko Buku Gramedia dan Pameran Buku Istora Senayan, Jakarta.

Untuk Teman-teman yang ingin membeli buku yang saya tulis : CUKUPLAH ALLAH  tetapi tidak ada Toko Buku Gramedia di dekat tempat tinggal teman-teman, untuk sementara mungkin bisa datang ke cabang-cabang kantor penerbit Zikrul Hakim di enam kota, yang paling dekat dengan daerah tempat tinggal Teman-teman, sebagai berikut :

  1. Bandung : Jl. Jember No. 32 Antapani Bandung. Telp : 022 – 7270443
  2. Bogor : Kampung Bojong Kidul, Gang Pesantren, Jl. Rancamaya, Bojong Kerta, Ciawi, Bogor. Telp. : 0251 – 8249314 Fax : 0251 – 8249246
  3. Surabaya : Perumahan Palem Spring Regency Blok D-9, Jambangan, Surabaya. Telp : 031 – 8294313
  4. Padang : Komplek Alam Permai Blok C No. 1, Jl. Gunung Singgalang – Gunung Pangilun, Padang, Sumatera Barat. Telp : 0751 – 7857633
  5. Pekan Baru : Jl. Pahlawan Kerja, Gang damai II No. 127, Simpang Tiga, Pekan Baru. Telp/Fax : 0761 – 673267
  6. Medan : Jl. Durung No. 106 D, Pancing medan, Sumatera Utara, Telp : 061 – 6610794

Demikian pemberitahuan saya, mohon maaf, sampai sekarang masalah/urusan yang saya tangani, masih belum tuntas juga, tapi InsyaAllah akan saya usahakan untuk meng-update Blog secepatnya, dengan postingan terbaru. Dan InsyaAllah, akan saya usahakan untuk menjawab komentar teman-teman.

Dewi Yana

 

 

 

Slide Show of my book

Assalamu’alaikum,

Teman-teman semua, saya mohon maaf, mungkin dalam beberapa hari kedepan, saya  tidak bisa menjawab komentar teman-teman secara langsung dengan mengunjungi blog Teman-teman. Karena ada suatu urusan yang perlu perhatian dan penanganan khusus secara langsung, hal ini mengakibatkan kurangnya waktu saya untuk mengupdate blog dan menjawab komentar Teman-teman. Saya benar-benar mohon maaf.

Untuk buku saya, masih terus di produksi, saya sudah tanya ke Penerbit, memang hanya ada di kota-kota besar saja dan di Gramedia yang besar-besar saja.

Wa’alaikum salam,

Dewi Yana

Buku-buku yang saya tulis :

 

 

Assalamu’alaikum,

Teman-teman, InsyaAllah pada bulan November 2009, saya akan membagikan 5 (lima) buah buku terbaru saya : CUKUPLAH ALLAH keteman-teman, dengan cara di pilih/dikocok, seperti arisan. Mohon maaf, hanya bisa membagikan 5 (lima) buku. InsyaAllah, nama yang terpilih nanti, akan saya email dan harap mengirimkan email balik ke saya, alamat untuk pengiriman buku tersebut. Mohon doa dan dukungan teman-teman semua, terima kasih.

Dewi Yana

CINTA DUNIA

Cinta dunia adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73)

Perhatikan Firman Allah SWT berikut ini: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid [57]:20)  Cinta dunia adalah segala sesuatu yang membuat kita lalai kepada Allah,  misalnya, shalat, saum atau sedekah,  dan kalaupun kita tetap melakukannya tapi tetap dikatakan sebagai urusan dunia,  jika niatnya ingin dipuji makhluk hingga hati lalai terhadap Allah.

Hampir tiba dimana umat-umat saling memanggil untuk melawan kalian sebagaimana orang-orang saling memanggil untuk menyantap hidangannya”. Salah seorang bertanya:  ”apakah karena sedikitnya kami ketika itu? Rasul menjawab, “bahkan kalian pada hari itu banyak akan tetapi kalian laksana buih dilautan dan sungguh Allah mencabut ketakutan dan kegentaran terhadap kalian dari dada musuh kalian dan Allah tanamkan di hati kalian al-wahn”. Salah seorang bertanya: apakah al-wahn itu ya Rasulullah? Beliau menjawab:  “cinta dunia dan membenci kematian” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jika orang sudah cinta dunia, maka akan datang berbagai penyakit hati. Ada yang menjadi sombong, dengki, serakah dan cenderung melelahkan diri sendiri memikirkan yang tidak ada. Makin cinta pada dunia, akan makin serakah. Bahkan, bisa berbuat keji untuk mendapatkan dunia yang diinginkannya. Pikirannya selalu dunia, pontang-panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Hud[11]: 15-16).

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah SWT. (Al Hadits)

Segala sesuatu dalam kehidupan dunia ini tidak ada artinya. harta, gelar, pangkat, jabatan, dan popularitas tidak akan ada artinya jika tidak digunakan di jalan Allah. Hal yang berarti dalam hidup ini hanyalah amal-amal kita. Oleh sebab itu, jangan pernah kecukupan atau kekurangan “dunia” ini meracuni hati kita. Jika kita berkecukupan, jangan sampai kecukupan kita menjadikan kita sombong, dan jika kita kekurangan, maka jangan sampai kekurangan kita itu, membuat kita jadi kurang mensyukuri nikmat Allah, banyak mengeluh dan minder.

Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang cinta pada dunia ibarat orang yang berjalan di atas air. Dapatkah orang berjalan di atas air, kakinya tidak basah?” (Al-Hadits). “Dunia adalah manisan hijau. Dan Allah mengangkat kamu sebagai khalifah di atasnya, dan Dia menyaksikan bagaimana cara kamu bekerja.” (Al-Hadits).

Obat dari penyakit cinta dunia ini tidak lain adalah kezuhudan kita kepada dunia, yang mana Rasulullah saw telah mengajarkan kita ummatnya untuk berlaku zuhud. Rasulullah saw bersabda: “zuhudlah di dunia maka ALLAH akan mencintai kalian, dan zuhudlah atas apa-apa yang ada di sebagian manusia, maka kamu akan dicintai oleh mereka ” (HR.ibnu majah dalam kitab zuhud ).

Perhatikan hadits berikut ini: “Andai saja kamu mengetahui, apa yang engkau akan lihat saat kematianmu, tentulah engkau tidak akan memakan segigitpun hidangan idamanmu, dan pula engkau tidak akan meminum lagi minuman lezat untuk memuaskan rasa dahaga mu yang tak terpuaskan” (Imam Ahmad dari Abu Dharda as)

Jabir bin Abdillah ra bekata, “Rasulullah SAW pernah memasuki sebuah pasar yang di kiri-kanannya dipadati manusia. Ketika itu beliau melewati seekor kambing kuper (telinganya kecil) yang telah menjadi bangkai. Lantas Beliau menenteng telinga kambing itu seraya berseru, “Siapakah yang mau membeli kambing ini dengan harga satu dirham?” Pengunjung pasar menjawab, “Sedikitpun kami tidak menginginkannya“. Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mau jika anak kambing ini kuberikan cuma-cuma kepada kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kalaupun anak kambing itu hidup, kami tidak akan menerimanya karena cacat, maka bagaimana kami mau menerimanya setelah menjadi bangkai?” Mendengar hal ini Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing kuper ini dalam pandangan kalian” (HR. Muslim)

Cinta dunia adalah sumber segala kesalahan karena cinta dunia, sering mengakibatkan seseorang cinta terhadap harta benda dan didalam harta benda terdapat banyak penyakit. Antara lain sifat bangga dan angkuh, pamer terhadap yang dimiliki.  Dan orang yang cinta dunia akan sibuk mengurus hartanya dan terus berusaha untuk menambahnya, hingga membuatnya lalai dari dzikir kepada Allah SWT. Ketahuilah barangsiapa dilalaikan oleh harta bendanya, dia akan merugi, terlebih bila lalai dari dzikrullah, ia akan hanya seperti mayat, karena bila hati sepi dari dzikir ia akan dihuni dan disetir olehsetan sesuai kehendaknya.

Jika seorang manusia telah dikuasai (hatinya) oleh iblis, maka akan menjadi lemah, iblis akan membolak-balikan hatinya bagaikan seorang anak kecil mempermainkan bola. Karena orang yang mabuk karena cinta dunia tidak akan sadar kecuali setelah berada di dalam kubur. Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia itu araknya setan, barangsiapa mabuk karenanya, ia tidak akan segera sadar, kecuali setelah berada di tengah kumpulan orang mati dalam keadaan menyesal di antara orang-orang yang merugi”.

”Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Barzah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sebelum ditanya tentang 4 perkara : Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia gunakan, hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ilmunya, apa yang diamalkannya.” (HR. Tirmidzi).

Dunia dengan segala pesonanya memang sangat menggoda dan mempesona, dan kadang kesuksesan seseorang memang diukur dari status sosialnya di masyarakat, namun hal tersebut jangan sampai membuat kita terjebak dan terperangkap cinta dunia. Ingatlah kita hanya hidup sementara di dunia ini, semua harta dunia yang kita banggakan, tidak akan kita bawa mati, hanya amal ibadah, dan amal kebaikanlah yang akan menemani kita hingga sampai hari kita dibangkitkan nanti. Jadikanlah dunia hanya sebagai ladang akhirat kita, tempat kita mempersiapkan bekal untuk akhirat nanti. Ingatlah selalu, bahwa kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang sudah kita lakukan selama kita hidup didunia ini.

Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

AMANAH

Semua, segala sesuatu yang ada di alam fana ini, berawal dari ketiadaan, kemudian Allah menciptakannya menjadi ada. Makhluk hidup diciptakan Allah untuk misi dan peranan serta fungsi masing-masing. Hewan, misinya adalah untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu Allah SWT tidak membebani hewan dengan syari’at, mereka juga tidak perlu diberi peraturan, sebab tanpa peraturan pun mereka tidak akan menimbulkan bencana dan kerusakan di muka bumi ini.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).

Hidup kita adalah sebuah perjuangan untuk melaksanakan amanah dari Allah SWT. Amanah tersebut hanyalah diberikan kepada kita, dan tidak kepada makhluk-makhluk lainnya, seperti; langit, bumi dan gunung, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT tersebut di atas. Oleh karena kita menerima dan memikul amanah tersebut, maka hidup kita adalah perjuangan untuk merealisasikan amanah tersebut.   Amanah merupakan janji untuk dipenuhi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Siapa yang dapat memenuhinya dengan baik, ia akan memperoleh pahala dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Sebaliknya, barangsiapa yang mengingkari atau mengkhianatinya, maka ia akan memperoleh imbalan yang seimbang dengan perbuatannya.

Amanah yang diberikan kepada kita terdiri atas amanah ibadah dan amanah kekhalifahan. Dengan amanah ibadah, kita sebagai manusia dan juga jin dituntut untuk tunduk, patuh, taat, berbakti dan menyembah hanya kepada Allah. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariat [51]: 56).

Dalam merealisasikan amanah ibadah ini, kita harus menjamin terpeliharanya hubungan kita dengan Allah (hablun minallah), yakni hubungan makhluk dengan Khaliknya. Melaksanakan kewajiban kita, mentaati peraturan-peraturan dan berbakti kepada Allah. Sebagaimana tertulis dalam firman Allah SWT berikut ini: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am [6]: 162-163).

Kemudian amanah tentang kekhalifahan, bahwa kita diciptakan Allah sebagai khalifah untuk melaksanakan segala peraturannya, demi untuk memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah untuk tujuan ini dan berlaku juga untuk keturunan Adam sampai akhir zaman. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30). Selanjutnya dalam ayat lain Allah SWT berfirman: “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am [6] : 165).

Kita dijadikan sebagai khalifah penghuni dunia untuk memakmurkan dunia dan untuk melaksanakan tugas sebagai hamba Allah. Kita diberi kelengkapan hidup yang sesuai dengan tugas yang kita sandang. Kita diciptakan dalam struktur tubuh yang paling baik dan sempurna (rohani dan jasmani), yang dengan semua itu, agar kita mampu melaksanakan tugas kita sebagai pengemban amanah Allah SWT. Salah satu hal yang penting dalam struktur ini ialah kita diberinya akal, yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lainnya. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk  yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin [95] : 4).

Itulah keutamaan kehendak, nalar, usaha, dan pemikulan beban. Itulah keistimewaan manusia dibanding banyak makhluk Allah lainnya. Itulah tolok ukur penghormatan yang dideklarasikan Allah, saat Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam. Allah mendeklarasikannya di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70).

Jadi, perbedaan kita dari makhluk lain adalah dalam memikul amanah, kita telah dikarunia-Nya akal dan pikiran untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Kita pun dituntut harus mengenal dan mengabdi pada-Nya, sesuai dengan firman-Nya di surah Adz-Dzariat ayat 56 (lihat diatas). Kita harus menyadari bahwa amanah itu, kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Segala yang kita lakukan di dunia ini, kelak harus kita pertanggujng jawabkan di hadapan Allah SWT.  Perhatikan juga firman Allah SWT berikut ini: ”Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka” (QS. Faathir {35} : 39)

Anak juga adalah amanah, anak bukan milik kita, tetapi milik Allah.  Kita harus memelihara, merawat dan mendidiknya dengan baik. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:  “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci yakni Muslim).  Kedua-dua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi.”  (HR. Bukhari).

Menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan kepada kita oleh sesama manusia, itu juga amanah yang harus kita jaga dan laksanakan dengan sebaik-baiknya. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An-Nisa [4]: 58).

Sekarang, mari kita semua tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, sudahkah kita menunaikan amanah yang dititipkan kepada kita dengan benar? Jika belum, segera bertobatlah dan perbaiki semua, karena sangat besar sangsinya bila kita tidak dapat menunaikan amanah yang dipercayakan dan atau dititipkan kepada kita. Perhatikan firman Allah SWT dan hadits-hadits berikut ini:

  1. Allah SWT berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfaal [8] : 27)
  2. Dari Abu Bakar ra ia berkata Rasulullah saw bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang kikir, dan orang yang buruk dalam mengelola harta yang menjadi tanggungannya.”  (HR. Tirmidzi).
  3. Rasulullah saw. bersabda, “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
  4. Tunaikanlah amanah pada orang yang memberikan amanah itu kepadamu, dan jangan kau khianati orang yang pernah mengkhianatimu.” (HR. Al-Imam Ahmad dan Ahlus Sunan)
  5. Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat-saat kehancurannya”. Salah seorang bertanya: “Bagaimana bentuk menyia-nyiakan amanah itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Apabila urusan itu diserahkan (dipercayakan) kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat-saat kehancurannya”. (Imam Bukhari)
  6. Hal ini juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)
  7. Tingginya tingkat keseriusan agama memandang masalah amanah ini terlihat dari riwayat ketika seorang penduduk Arab pegunungan datang bertanya kepada Rasulullah saw. “Apakah yang paling berat dalam agama dan yang paling ringan? Rasulullah saw memberi jawaban, “Yang paling ringan ialah mengucapkan dua kalimat syahadat, asyhadu anlaa ilaaha Illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Sedangkan yang paling berat ialah amanah. Tidak sempurna agama seseorang yang tidak menjaga amanah, tidak diterima shalat dan zakatnya.”  (HR. Al Bazar dari Ali bin Abi Thalib)
  8. Telah datang dalam sunnah Rasulullah saw hadits-hadits yang menunjukkan dilarangnya aparat pekerja dan pegawai mengambil sesuatu dari harta walaupun dinamakan hadiah, diantaranya hadits Abi Sa’id Hamid As-Saidi, ia berkata. “Artinya : Rasulullah saw mempekerjakan seseorang dari suku Al-Asad, namanya Ibnul Latbiyyah untuk mengumpulkan zakat, maka tatkala ia telah kembali ia berkata, ‘Ini untuk engkau dan ini untukku dihadiahkan untukku’. Ia (Abu Hamid) berkata, ‘Maka Rasulullah saw berdiri di atas mimbar, lalu memuja dan memuji Allah dan bersabda, ‘Kenapa petugas yang aku utus lalu ia mengatakan, ‘Ini adalah untuk kalian dan ini dihadiahkan untukku?! Kenapa dia tidak duduk di rumah bapaknya atau rumah ibunya sehingga dia melihat apakah dihadiahkan kepadanya atau tidak?! Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya! Tidaklah seorangpun dari kalian menerima sesuatu darinya melainkan ia datang pada hari Kiamat sambil membawanya di atas lehernya onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik’, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat putih kedua ketiaknya, kemudian bersabda dua kali, ‘Ya Allah, apakah aku telah menyampaikan?” (Diriwayatkan Al-Bukhari 7174 dan Muslim 1832 dan ini adalah lafazhnya).

Termasuk di antara konsekuensi perintah untuk menunaikan amanah pada yang berhak menerimanya adalah perintah untuk menjaga amanah tersebut. Tidaklah mungkin seseorang menunaikan amanah itu tanpa menjaganya. Yang dimaksud menjaganya adalah tidak melampaui batas dan tidak pula menyepelekannya. Dia menjaganya sesempurna mungkin tanpa berlebihan dan tanpa meremehkan, sampai amanah itu tertunaikan pada yang berhak menerimanya.

Inilah yang harus kita ketahui, kemudian kita ajarkan kepada anak-anak, agar terbentuk sifat terpuji yang dapat menambah keimanan dalam diri anak-anak kita. Ketahuilah, menunaikan amanah termasuk tanda keimanan seseorang. Karena itu, jika kita dapati seseorang memiliki sifat amanah dalam segala sesuatu yang diamanahkan kepadanya, menunaikannya sesempurna mungkin, ketahuilah bahwa dia seorang yang kuat imannya.

Semoga kita semua bisa menjadi hamba Allah yang dapat menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, baik itu amanah ibadah dan amanah khalifah di bumi ini, karena kelak, semua harus kita pertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Dan semoga amanah yang Allah berikan kepada kita bukan menjadi beban bagi kita, tetapi menjadi ladang amal bagi kita semua.

Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1430 H

Kumpulan kartu ucapan SMS Lebaran 1430H Selamat Idul Fitri

MOHON MAAF LAHIR BATIN

Dewi Yana

Jalan Dakwah Bersama 

Teman-teman semua, saya mohon maaf bila agak terlambat dalam menjawab komentar teman-teman, hal tersebut dikarenakan kesibukan Lebaran, dimana banyak tamu yang datang dan banyak juga saudara yang harus dikunjungi, harap maklum, terima kasih (Dewi Yana)